Jumat, 01 Maret 2013

Bandung-Banjar: [masih] My First Backpacking



Hai hai, mau cerita lagi nih soal Bandung.
Di posting sebelumnya (baca di sini), aku sudah menceritakan dua hari di Bandung (tanggal 18 dan 19 Februari 2013). Nah, sekarang aku akan menceritakan hari ketiga di Bandung (tanggal 20 Februari 2013).
Di hari ketiga ini, aku dan Mbak Tica pergi ke Santosa Hospital untuk mengunjungi Mas Bagus (suami Mbak Tica) yang sedang diopname. Selesai menjenguk Mas Bagus, Mbak Tica mengajakku mampir ke toko brownies Amanda dan jalanan Punclut. Lucu ya, namanya Punclut? Sebenarnya nama Punclut adalah singkatan dari Puncak Cimbeleut. Punclut adalah daerah dataran tinggi, seperti Payung Malang atau Rembangan Jember. Di tepi jalan berjajar warung-warung makan yang memanjakan pembeli dengan pemandangan kota yang dilihat dari tempat tinggi. Mbak Tica mengajakku makan di salah satu warung untuk mencicipi nasi merah. Kami memilih salah satu warung yang cukup besar.
Pemandangan kota dilihat dari Punclut

Pemandangan dari warung tersebut cukup indah. Yah, pemandangan khas di dataran tinggi begitu lah. Suasananya mirip seperti Rembangan Jember (baca di sini), tetapi tidak ada kandang yang dibuat khusus untuk berdua (pacaran). Ohya, makanan di daerah sini cukup mahal lho. Aku memilih lauk ayam bakar, tempe, dan sambal. Sedangkan Mbak Tica memilih lauk ayam bakar, ikan asin, dan dadar jagung. Diperlukan selembar Rp 50.000,- untuk membayar dua porsi tersebut. Kalau di Surabaya, cukup Rp 15.000,- seporsi. Hehehe.
Selesai makan, Mbak Tica mengajakku mengunjungi tempat bernama Tahu Lembang. Masih sama seperti Rumah Sosis, aku juga mengira di dalam Tahu Lembang aku akan menjumpai banyak variasi tahu dan makanan serba tahu, bukan tahu aja tapi tahu banget. Eh ternyata... yang heboh malah jajanan lainnya. Selain pusat jajanan, di Tahu Lembang juga ada toko pakaian, toko oleh-oleh, kebun strawberry, playground, dan bus besar milik Rumah Sosis.
Aku banyak mengobrol dengan Mbak Tica di hari terakhir ini (besok pagi aku sudah harus naik kereta ke Banjar). Mbak Tica banyak berbagi tentang pengalamannya menjadi Ibu dan Istri. It’s such a wonderful time. Hoho.
Keesokan harinya pada pukul 05.00, aku naik ojek dari rumah Mbak Tica ke stasiun Kiara Condong untuk melanjutkan perjalanan ke Banjar. Aku naik kereta api Pasundan dengan tujuan stasiun Banjar. Harga tiket kereta api Pasundan, jauh dekat ternyata sama yaitu Rp 38.000,-. Kereta api ini, meskipun kelas ekonomi dengan harga tiket yang terjangkau, tetapi ternyata ber-AC dan cukup bersih. Aku sampai di stasiun Banjar pada pukul sepuluh lebih sedikit. Dari sana, aku dijemput oleh Dek Ana. Dek Ana adalah tetangga sekaligus teman baikku. Kok bisa tetangga? Ya, sebenarnya keluarga Dek Ana tinggal tepat di sebelah barat rumahku. Setelah lulus SMA, dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Kesehatan di kota Banjar, Jawa Barat, dengan jurusan diploma 3 kebidanan. Sekarang dia sudah lulus dan mulai bekerja di puskesmas kecamatan Pangandaran. Dari stasiun Banjar ke kecamatan Pangandaran dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam naik motor.
Ohya, kalau kalian sedang berada di Bandung dan ingin mengunjungi Pantai Pangandaran, lebih baik naik bus jurusan Bandung-Pangandaran dengan biaya perjalanan sekitar Rp 35.000,-.
Dari stasiun, kami pergi berkeliling sebentar di kota Banjar. Menurut cerita Dek Ana, kota Banjar adalah kota yang baru berusia sepuluh tahun. Lalu kami mampir ke warung untuk sarapan. Kalau di sini harga makanannya lebih murah. Segelas teh manis dan seporsi nasi dengan lauk ayam goreng dan dua potong tempe berharga Rp 10.000,-.
Hari itu, tanggal 21 Februari 2013, aku menghabiskan waktu di rumah Uwak (paman dan bibi) dan Mak (nenek) nya Dek Ana. Sebuah rumah sederhana yang sangat bersih. Kerennya, di halaman rumah ini berdirilah sebuah musholla. Aku menghabiskan waktu di rumah sambil beristirahat. Baru keesokan harinya, kami pergi ke Pantai Pangandaran.
Sebelum ke Pantai Pangandaran, Dek Ana mengajakku mampir ke Jawa Tengah. Iya, benar, Jawa Tengah. Ternyata Pangandaran ini merupakan daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kami berhenti di dekat gapura bertuliskan Jawa Tengah, lalu mengambil beberapa foto di sana. Setelah itu, baru kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pangandaran.
Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat

Pernah baca postingku yang bercerita tentang Pantai Papuma Jember? It’s a beautifull beach. Sama seperti Pantai Papuma, Pantai Pangandaran juga cantik. Aku tidak bisa bilang pantai mana yang lebih cantik, sebab setiap pantai memiliki kelebihannya masing-masing. Pantai Papuma memiliki batu-batu karang besar dan tinggi, pasirnya putih dan banyak tebing mengelilinginya. Sedangkan Pantai Pangandaran berada dalam kawasan cagar alam.
Saat pertama kali sampai ke pantai, aku terkejut melihat seekor rusa berkeliaran bebas di sana. Aku langsung memotret rusa itu. Kata penduduk setempat, ternyata hal itu adalah pemandangan yang biasa mereka lihat. Bahkan di hari lain, terkadang ada banteng yang berkeliaran di sana.
Aku masuk ke Pantai Pangandaran melalui pantai yang pasirnya hitam. Tidak ada tiket masuk, kecuali jika masuk pantai melalui cagar alam, di mana ada sisi pantai yang berpasir putih harus membayar tiket masuk sebesar Rp 8.500,-. Di sisi pantai yang berpasir hitam, berjajar banyak perahu milik penduduk setempat yang digunakan untuk melayani para pengunjung yang ingin pergi melihat sisi pantai yang lain dengan naik perahu.
Bagian pantai berpasir hitam
Setelah beberapa kali mengambil foto, aku dan Dek Ana mencari tumpangan perahu dengan harga yang murah. Kami menyepakati harga Rp 10.000,- yang ditawarkan seorang Bapak untuk mengantar kami dengan perahunya ke sisi pantai berpasir putih. Namun ternyata, di tengah jalan si Bapak menawarkan harga Rp 30.000,- per orang untuk melihat-lihat pantai lebih jauh lagi hingga melewati batas laut lepas. Setelah tawar-menawar, kami sepakat harga Rp 25.000,- per orang. Kalau kalian tertarik, sebaiknya naik perahu dengan rombongan saja agar tidak membayar mahal. Menurut Ang Engkos (sepupunya Dek Ana), biasanya satu perahu bisa dibayar dengan harga Rp 150.000,- untuk setiap rombongan. Jadi, kalau di dalam rombongan ada lima belas orang, per orang hanya perlu membayar Rp 10.000,- untuk tujuan yang sama dengan yang aku dan Dek Ana kunjungi. Cukup jauh kan selisih harganya? Ya maklum, waktu itu kami hanya berdua dan pantai sedang sepi karena bukan hari libur.
Sepanjang perjalanan, aku dan Dek Ana mengambil beberapa foto. Sedangkan si Bapak pengemudi perahu beberapa kali bercerita soal Pantai Pangandaran. Di tengah perjalanan, beberapa kali ombak tinggi melewati kami. Dengan noraknya, aku dan Dek Ana berteriak-teriak seperti waktu naik roller coaster -_-a. Hehe. Tapi si Bapak malah menertawakan kami dan bilang, “biasanya mah ombaknya tinggi, sampai ke puncak tebing itu neng.”
Si Bapak menunjuk salah satu tebing.
Menikmati ombak
Ada beberapa tempat menarik di sisi Pantai Pangandaran yang dapat dilihat selama perjalanan dengan perahu. Ada pantai pasir putih yang merupakan batas kawasan cagar alam. Ada kumpulan karang tempat para nelayan mencari lobster. Batu karang itu juga berperan sebagai penanda batas laut lepas. Satu jam dari batu karang itu, kita bisa mencapai Pulau Nusa Kambangan. Setelah menjumpai batu karang, ada pantai pasir putih yang tertutup untuk tempat bertelurnya kura-kura (si Bapak yakin banget kalau itu kura-kura, bukan penyu). Ada batu duduk yang bentuknya mirip seperti manusia yang sedang duduk. Si Bapak cerita bahwa dahulu kala ada anak seorang nelayan yang kerjaannya hanya memancing. Anak nelayan itu nakal dan tidak mau menaati nasihat orang tuanya, sehinngga dia dikutuk menjadi batu. Dan puff, jadilah batu duduk. Sayangnya si Bapak tidak sampai mengantar lebih dekat ke batu duduk itu, jadi aku hanya bisa mengambil gambarnya dari kejauhan. Jika naik perahu lebih jauh lagi, sebenarnya akan ada gua yang kata si Bapak ada batu kelamin di dalamnya. Kata si Bapak, batu itu dinamai batu kelamin karena bentuknya yang menyerupai kelamin. Ada dua jenis batu kelamin di dalam gua itu, yaitu batu kelamin laki-laki dan batu kelamin wanita. Nah, kali ini kelamin siapa ya yang dikutuk? Hihihi.
batu karang pembatas laut lepas
Aku dan Dek Ana memutuskkan untuk masuk ke cagar alam, sehingga si Bapak hanya mengantar kami sampai ke pantai pasir putih. Di sana ada beberapa orang yang menyewakan alat untuk snorkling. Aku sebenarnya ingin mencoba snorkling, tapi Dek Ana lagi gak enak badan, jadi batal deh. Mana enak snorkling sendirian, hehe. Jadi kami cukup mengambil beberapa foto di pantai pasir putih ini, mencari beberapa batu karang kecil di tepi pantai, dan melanjutkan perjalanan untuk masuk ke cagar alam.
Ketika berada di pantai pasir putih, aku melihat serombongan anak-anak SMA yang kegirangan bermain di pantai. Saat kutanya, ternyata mereka berasal dari kota Banjar yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mencapai pantai ini. Bisa kupastikan mereka sering mengunjungi pantai ini. Tetapi sepertinya mereka tidak pernah bosan. Itu juga yang kudengar dari Dek Ana. Dia sudah berkali-kali mengunjungi Pantai Pangandaran, tetapi belum juga bosan. Aku jadi teringat dengan apa yang ditulis oleh Mbak Azzura Dayana dalam novelnya: Tahta Mahameru. Dalam novel itu, Mbak Azzura Dayana menulis bahwa anak pantai sekalipun, akan tetap berteriak kegirangan setiap melihat pantai. Maksudnya, meskipun sehari-hari terbiasa melihat pantai, tetapi ketika bermain di pantai, tetap saja itu akan menyenangkan hati mereka.
Dari pantai pasir putih, aku dan Dek Ana mulai berjalan ke dalam cagar alam. Di sepanjang perjalanan, ada beberapa gua Jepang. Ternyata, dulu para tentara Jepang pernah mendarat di area pantai ini, sehingga dibangunlah beberapa gua pertahanan. Kalau berjalan di dalam cagar alam ini sebaiknya jangan mengenakan perhiasan yang mencolok, sebab banyak kera yang berkeliaran secara bebas. Aku dan Dek Ana sempat dikejar kera yang lebih besar dari yang lain. Aku yang notabene-nya lebih sering berkegiatan alam bebas, malah lari lebih cepat dari Dek Ana. Payah, nih, masak aku lebih penakut daripada Dek Ana. Hehe.
gua Jepang di cagar alam pangandaran
 Di cagar alam ini juga banyak rusa yang berkeliaran dengan bebas. Mungkin rusa yang tadi kulihat di pantai juga termasuk kawanan rusa dari cagar alam ini ya? Hehe. Aku juga sempat melihat bunglon di pepohonan. Wow, untunglah tidak ada harimau atau hewan buas lainnya yang sudi bertemu dengan kami. Huffbanget.
rusa-rusa di cagar alam
Sebenarnya kami juga agak was-was karena saat itu cagar alamnya sedang sangat sepi pengunjung. Jalanannya juga agak tidak jelas lewat mana. Tapi untunglah, kami berhasil keluar dari cagar alam tanpa kekurangan suatu apa pun. Di pintu keluar yang juga pintu masuk cagar alam, kami bertemu seorang ibu bersama kedua orang anaknya. Ibu itu berkata kepada kami bahwa mereka tidak berani masuk karena barusan dikejar-kejar oleh kera.
Keluar dari cagar alam, Dek Ana mengantarku mencari aksesoris khas Pangandaran. Awalnya ingin membeli beberapa lembar kaus dan celana pantai. Tapi waktu ke toko, aku jadi kehilangan selera. Jangan tanya penyebabnya ya. Salah satunya karena mahal, tetapi bukan sepenuhnya karena itu. Akhirnya, aku hanya membeli beberapa gantungan kunci khas Pangandaran. Hoho.
Setelah mendapat gantungan kunci lucu berbentuk olive, kami pun pulang. Di tengah perjalanan, kami mampir ke warung bakso. Bakso di sini berbeda dengan bakso di Jawa Timur. Dan namanya bukan bakso, tetapi mie baso. Seporsi mie baso berisi mie kuning yang cukup banyak, beberapa butir baso daging sapi, dan sepotong daging sapi yang melekat pada tulangnya (entah bagian mana, hehe).
Selepas makan bakso, kami pulang ke rumah. Ohya, lucunya, aku dan Dek Ana sedang sama-sama tidak sholat, jadi kemana-mana seperti gak perlu lihat jam deh. Hehe. Ternyata waktu sampai rumah, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. It’s really a nice day. Alhamdulillah.
Keesokan harinya, tanggal 23 Februari 2013, aku ngintil Dek Ana ke puskesmas tempatnya bekerja. Sehari menjadi bidan nih ceritanya, wkwkwk. Untung saja tidak ada pasien yang melahirkan. Kalau ada, wow! Iya, pokoknya harus bilang WOW! Siangnya, setelah pulang dari puskesmas, kami pergi ke warung karedok. Aku penasaran, sih, rasanya karedok itu seperti apa. Oalah, ternyata sayur-sayuran yang dicampur dengan bumbu kacang. Rasanya seperti gado-gado tanpa lontong dan tahu. Setelah dari warung karedok, Dek Ana mengantarku membeli ke toko salegor di daerah Padangherang.
Sorenya, aku bersiap-siap pulang. Aku akan naik kereta Mutiara Selatan untuk perjalanan ke Surabaya. Sebenarnya, keretaku baru akan tiba di stasiun Banjar pada pukul 20.58. Tetapi karena jarak rumah ke stasiun Banjar ditempuh selama 1-1,5 jam, maka kami tidak mengambil resiko berangkat malam. Apalagi jalanan yang ditempuh gelap dan naik turun seperti di daerah Trawas.
Pukul 16.30, aku dan Dek Ana naik bus menuju stasiun Banjar. Kami tidak naik motor karena mengkhawatirkan Dek Ana yang akan kembali ke rumah malam-malam. Kami sampai di stasiun Banjar tepat sebelum adzan Maghrib. Setelah mengobrol sebelum berpisah lagi, pada pukul 19.30 Dek Ana pun kembali ke rumah dengan bus dari Jakarta yang akan menuju ke Pangandaran. Hikz. Kapan kita akan ketemu lagi Dek? Ayo pulang aja ke Sidoarjo. Hehehe.

Well, itulah cerita seminggu di Bandung-Banjar. Walaupun selama di Bandung aku banyak jalan-jalan sendirian dan kurang merasa seru, tapi kalau dipikir-pikir aku jadi punya beberapa pengalaman baru soal backpacking. Apalagi waktu numpang di rumahnya Mbak Tica dan ngobrol dengannya, benar-benar menambah wawasan soal bagaimana menjadi ibu. Hohoho. Banjar juga menyenangkan, apalagi Pangandaran dan rumah Dek Ana. I’m gonna miss it. Jadi kepingin mampir lagi ke sana, hehehe. See ya Bandung dan Banjar!

Kamis, 28 Februari 2013

Bandung-Banjar: My First (failed?) Backpacking

Hello There!
It’s really long time for me to not see this blog. Miss it so much!
Seminggu yang lalu, dari tanggal 17-24 Februari 2013 aku mengadakan suatu perjalanan yang lumayan jauh. FYI, aku berdomisili di Jawa Timur, tepatnya Sidoarjo (1 jam dari Surabaya). Lalu, dengan bondo nekat alias Bonek, aku mengadakan perjalanan ke Jawa Barat. Aku tidak sendirian dalam perjalanan ini. Well, let me tell you everything about this travelling.
Dulu aku pernah menulis tentang resolusi di tahun 2013, dan salah satunya adalah melakukan perjalanan ke Jawa Barat untuk memulai proyek “Around the Java” ku. Aku girang sekali ketika mendengar bahwa Nurma, Janet, dan Norem akan pergi ke Bandung untuk melakukan tes kesehatan dan pembekalan sebelum melakukan ekspedisi ke Sulawesi yang diadakan oleh Kopasus.




setelah sarapan sebelum Norem, Janet dan Nurma berangkat ke Batujajar untuk tes kesehatan (dari ki-ka: Norem, Janet, Nurma, my self)
Menurut jadwal awal, tes kesehatan dilakukan pada tanggal 18 Februari, dan pembekalan akan dimulai pada tanggal 21 Februari. Maka menurut perhitungan, masih ada tanggal 19 dan 20 Februari untuk setidaknya bersama menghabiskan waktu melihat-lihat Bandung. Namun ternyata, setibanya di Bandung, ada perubahan jadwal. Ternyata, setelah tes kesehatan para peserta ekspedisi harus geser saat itu juga ke lokasi pembekalan materi di daerah Situ Lembang. Alhasil, kami harus berpisah jalan pada tanggal 18 Februari. Janet, Nurma, dan Norem pergi ke daerah Batu Jajar untuk tes kesehatan yang dilanjutkan dengan pembekalan materi di daerah Situ Lembang. Sedangkan aku, setelah sebelumnya bingung memikirkan bagaimana nasibku di tempat yang jauhnya lebih dari 700 Km dari Jawa Timur, akhirnya memutuskan untuk menumpang di rumah salah seorang Sikluser yang kebetulan berada di daerah Lembang. Hei, Situ Lembang dan Lembang ini bukan daerah yang sama atau berdekatan ya! Menurut Bapak yang aku tanya, ternyata Situ Lembang berada di dekat daerah Tasik, sedangkan Lembang adalah dataran tinggi yang terletak di Bandung Utara.
Aku berangkat ke Bandung naik kereta api Pasundan dengan tujuan stasiun Kiara Condong pada tanggal 17 Februari bersama Janet dan Nurma (Norem sudah berangkat ke Bandung satu hari sebelumnya bersama rombongan peserta ekspedisi yang lain). Setibanya di Bandung, kami menginap semalam di sekretariat mahasiswa KSE ITB (beasiswa Karya Salemba Empat). Esoknya, tanggal 18 Februari, aku berpisah dengan Janet, Nurma, dan Norem. Setelah tanya sana-sini, untuk pergi ke Lembang dari sekretariat KSE ITB, aku harus naik angkot dua kali oper. Pertama naik angkot jurusan terminal Ledeng, lalu dilanjutkan dengan angkot jurusan Lembang. Aku turun di Pasar Lembang, lalu dijemput oleh Mbak Tica. Mbak Tica adalah salah seorang sikluser yang empat tahun lebih tua dariku, seorang ibu rumah tangga dan sudah memiliki seorang bayi yang lucu.
Begitu bertemu dengan Mbak Tica, aku langsung curhat tentang kondisiku saat itu, bahwa aku sendirian dan sudah berpisah dengan Janet, Nurma, dan Norem.
Sesampainya di rumah Mbak Tica, ternyata Mas Bagus (suaminya Mbak Tica) sedang sakit dan akan berangkat ke rumah sakit untuk opname. Mbak Tica tidak bisa menemani Mas Bagus ke rumah sakit karena harus menjaga Rezvan (bayinya Mbak Tica) yang juga sedang tidak enak badan. Yah, kebetulan sekali aku datang di saat Mbak Tica sedang repot-repotnya.
Mbak Tica dan bayinya, Rezvan
Sampai pukul 14.00, aku menghabiskan waktu di rumah Mbak Tica untuk beristirahat, berkenalan dengan Rezvan (sumpah, Rezvan lucu banget!), dan browsing tentang Bandung. Bodohnya, sebelum berangkat ke Bandung, aku sama sekali tidak mencari tahu tentang Bandung. Yah, ini salah satu evaluasi kalau aku akan pergi kemana-mana lagi. Kemudian, setelah lewat pukul 14.00 aku baru keluar rumah Mbak Tica. Aku bingung mau pergi kemana. Mau ke Tangkuban Perahu (hanya 30 menit dari rumah Mbak Tica), sudah terlalu siang. Mau mampir ke mapala Ganesha (mahasiswa pencinta alam ITB) atau UPI, tapi tidak memiliki kenalan di sana. Sebelumnya, aku mendapat kabar dari Janet bahwa ternyata para peserta yang berjenis kelamin wanita akan diberangkatkan ke Situ Lembang keesokan harinya, jadi hari ini seharusnya masih bisa bertemu lagi. Tetapi, kami terlalu lama memutuskan akan pergi ke mana, sebab jarak Lembang-Batu Jajar (tempat mereka tes kesehatan) cukup jauh. Akhirnya, karena sudah siang dan tidak mau menghabiskan waktu lagi, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri dengan meminjam motor Mbak Tica. Dan pilihanku hari itu adalah pasar buah Lembang, kampus UPI, dan Rumah Sosis.
You have to know bahwa jalan-jalan sendirian itu sangat tidak menyenangkan. Sebagus apa pun tempat yang kita kunjungi, tetapi kalau sendirian ya tetap saja tidak akan menyenangkan. Aku ingat bertahun-tahun yang lalu Mbak Tica berkata, “naik gunung itu bukan soal ke mana, tetapi dengan siapa.”
Aku sangat setuju dengan kalimat itu, tetapi aku menggubahnya menjadi, “bukan soal kemana, tetapi dengan siapa”. Maksudku, tidak menjadi masalah ke mana kita pergi asalkan bersama dengan orang-orang yang menyenangkan. Aku jadi menyesal tidak menerima ajakan Janet tadi. hikz.
Oke, cukup sekian menyesalnya. Now I will tell you tentang tempat-tempat yang kukunjungi hari itu. Pertama, Pasar Buah Lembang. Karena bukan musim liburan dan bukan weekend, pasar ini sangaaaaaaaat sepi. Sebenarnya, aku tidak melihat pengunjung lain selain aku. Tadi ketika Mbak Tica bercerita tentang pasar buah ini, aku membayangkan pasar buah yang besar dan sangat ramai. Tetapi ternyata, pasar ini kecil dan hanya terdiri dari beberapa warung. Ada beberapa warung yang menjual oleh-oleh Bandung. Aku mampir ke salah satu warung untuk membeli salegor (pisang sale goreng). Aku juga mampir ke salah satu warung yang menjual kaus Bandung dan membeli dua kaus dengan harga Rp 24.000,-/kaus.
Setelah mengunjungi Pasar Buah, aku beranjak menyusuri jalanan Lembang, lalu tiba-tiba aku sudah berada di jalanan menuju Bandung kota. Karena sudah menjelang sore, aku berhenti saja di kampus UPI. Begitu memasuki area kampus, aku langsung mengaguminya. Kampus ini cukup luas dan besar, tetapi hanya memiliki satu area parkir besar. Di beberapa tempat terdapat papan bertuliskan “BUDAYAKAN BERJALAN KAKI DALAM KAMPUS”.
BUDAYAKAN BERJALAN KAKI DALAM KAMPUS
Benar-benar langkah kongkrit untuk mengurangi emisi karbondioksida. Aku tidak melihat adanya publikasi soal eco campus di UPI, tetapi sikapnya sangat eco campus. Talk less, do more! Please, don’t ask me about eco campus in ITS.
Setelah dari kampus UPI, aku kembali ke Lembang. Namun sebelum mencapai Lembang, aku melihat sebuah baliho besar bertuliskan Rumah SOSIS. Karena tertarik ingin melihat dalamnya rumah sosis (apakah di dalamnya ada banyak sosis?), aku masuk. Dan ternyata... Lagi-lagi aku menjadi satu-satunya pengunjung di sana. Krik krik krik.
Terdapat enam bagian di dalam rumah sosis: kolam renang, playground untuk anak-anak, toko oleh-oleh, restoran, toko sosis, dan kedai sosis bakar. Restoran dan toko oleh-oleh hanya buka di hari weekend. Karena tidak tertarik dengan kolam renang dan playgroundnya, aku pun melihat-lihat di toko sosis. Sebelum memasukinya, aku membayangkan betapa meriahnya toko sosis itu. Namanya saja toko sosis di dalam rumah sosis, pastilah sosis-sosis di dalamnya adalah sosis-sosis yang istimewa dan meriah. Namun ternyata... Toko ini tidak lebih luas daripada minimart. Di beberapa sudut toko terdapat beberapa freezer untuk menyimpan sosis-sosis yang dijual. Tidak ada sosis-sosis yang digantung dari atas langit-langit. Tidak ada poster-poster sosis yang ditempel di dindiing toko. Tidak ada mainan berbentuk sosis di dalamnya. Yah, everything is just usual. Ternyata yang meriah hanya namanya. Mengerti kan maksudku? Sebuah bangunan yang disebut Rumah Cermin, maka di dalamnya terdapat berbagai macam cermin di setiap bagiannya. Bangunan yang disebut Rumah Hantu juga memiliki banyak hantu di dalamnya. Yah, pokoknya bagian dalam rumah harus semeriah namanya.
Setelah melihat toko sosis yang mengecewakan, aku mampir ke kedai sosis bakar dan memesan satu tusuk sosis rasa blackpepper seharga Rp 12.000,-. Iya benar, hanya satu tusuk, karena sosisnya memang ukuran jumbo, tidak seperti sosis pada umumnya. Yang bisa kusimpulkan dari rumah sosis adalah bahwa yang istimewa hanya sosis-sosisnya: enak, besar dan panjang. Bangunan dan design nya tidak mewakili nama dari rumah sosis itu sendiri. Biasa saja.
Sosis bakar rasa blackpepper di Rumah Sosis
Dari rumah sosis, aku langsung beranjak ke daerah Lembang. Karena ternyata hari belum gelap, aku memutuskan untuk mengunjungi satu tempat lagi: Floating Market (Pasar Apung). And you know what? Lagi-lagi aku mengunjungi tempat yang seeepiiii. Sebelum membayar tiket masuk seharaga Rp 10.000,- dan biaya parkir Rp 1.000,-, aku bertanya kepada petugas di pintu masuk.
Aku: Pak, kok kelihatannya sepi ya. Lagi tutup ya Pak?
Petugas: Buka kok neng, ramenya pas Sabtu Minggu.
Aku: Lha yang disebut pasar apungnya sebelah mana Pak? (soalnya dari pintu masuk aku cuma bisa melihat warung-warung dan kebun)
Petugas: itu di sebelah sana neng (sambil menunjuk ke suatu tempat), tapi sekarang lagi tutup.
Aku: Tadi katanya buka...
Petugas: Pasar apungnya lagi pada tutup neng, soalnya sepi pengunjung, yang buka cuma dua warung yang itu sama yang itu (sambil menunjuk ke dua warung yang buka).
Aku: *dalam hati* percuma dong bayar Rp 10.000,- tapi gak bisa lihat pasar apung nya.
Aku: Oo, gak jadi deh Pak. Maaf ya Pak. (kabur)
Dasar. Kalau pasar apungnya (yang bahkan jadi nama tempatnya) tutup, kenapa pula masih dibuka. Hrrr!!
Selepas itu, aku mampir ke sebuah warung pinggir jalan untuk mencicipi ketan bakar. Ada tiga pilihan topping untuk si ketan bakar: oncom, parutan kelapa yang disangrai, dan kacang. Aku memilih parutan kelapa dan kacang untuk topping. Ternyata... Rasanya biasa saja. Si ketan bakar tidak berasa seperti ketan, tetapi seperti nasi. Pernah makan lemper kan? Aku membayangkan rasa ketan si ketan bakar ini mirip dengan rasa ketan si lemper: wangi dan sedikit berminyak. Eh ternyata cuma berasa seperti nasi yang dibakar, sama sekali tidak ada wangi ketannya. Yah, maklum lah warung pinggir jalan. Tapi menurutku, harga Rp 5.000,- terlalu mahal untuk ketan bakar macam begitu.
Baiklah, perut sudah terisi dan oleh-oleh sudah di tangan. Sekarang saatnya pulang ke rumah Mbak Tica. Seharusnya, dari warung ketan bakar tadi, rumah Mbak Tica dapat ditempuh dengan waktu kurang dari lima belas menit. Tetapi... I was lost! Sebelum berangkat jalan-jalan tadi, Mbak Tica menggambarkan peta sederhana untukku. Hemm. Tapi aku tidak menemukan satu tanda jalan yang digambarkan Mbak Tica di peta. Dan mampusnya, aku tidak mencatat alamat lengkap rumah Mbak Tica. Mampusnya lagi, HP ku secara sempurna mati karena kehabisan baterai. Setelah berputar-putar selama satu jam (sudah menjelang Maghrib), aku memutuskan untuk berhenti di pangkalan ojek terdekat. Aku bilang ke bapak-bapak tukang ojek bahwa aku orang Surabaya yang sedang tersesat, HP ku mati, lupa alamat rumah yang akan aku tuju, dan peta yang kubawa tidak bisa dijadikan petunjuk lagi. Dengan tanpa perasaan, seorang tukang ojek malah menudingku sambil berkata, “Jangan-jangan Neng ini penjahat hipnotis ya?!”
Sempurna sudah. Aku sedang tersesat dan disangka penjahat! Kenapa nggak sekalian saja dipanggilin polisi? *mewek*
Beruntungnya, ada salah seorang tukang ojek yang berbaik hati. Bapak tukang ojek itu mengantarku ke warung terdekat dan meminta tolong kepada pemilik warung agar aku bisa menumpang nge-charge HP. Begitu HP ku bisa menyala, aku langsung menghubungi Mbak Tica. Dengan bodohnya, aku lupa menanyakan alamat lengkap rumah Mbak Tica. Aku malah bertanya, “Mbak, nanti belok di mana?”
Mbak Tica menjawab, “kamu ikuti jalan besar aja, nanti setelah nemu lapangan kosong, baru belok ke gang. Kalau sudah sampai di sana telepon lagi, ya.”
Setelah berterimakasih kepada pemilik warung dan bapak-bapak tukang ojek, aku bergegas menyusuri jalan sesuai petunjuk Mbak Tica. Karena sudah malam dan sedikitnya lampu jalan, kesannya jadi seram. Tiba-tiba di tengah perjalanan, aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Entah darimana, aku mendapat teori bahwa jika sedang berkendara dengan kendaraan bermotor dan diikuti dari jarak yang cukup dekat, sebaiknya segera berhenti mendadak agar si penguntit bisa mendahului kita sehingga kita bisa berbalik arah dan kabur secepatnya. Aku akan mengamalkan teori itu, tetapi belum sempat berhenti mendadak si penguntit sudah menjajari ku. Oh geez, ternyata si penguntit adalah seorang lelaki tua. Ah, bagaimana ini kalau aku di-apa-apa-kan?! Kalau minta uang, aku kasih saja deh, toh di dompetku sisa selembar uang lima puluh ribuan. Tapi bagaimana kalau bapak tua ini malah mau memperk*sa-ku? Oh tidaaaaaaaak! Ya Allah, selamatkan hamba-Mu Ya Allah. Sumpah, aku kuatir banget waktu itu.
Ternyata... Si Bapak tua bertanya, “Neng, bapak antarkan saja, bapak tau lapangannya kok.”
Nah lho, darimana si Bapak tua ini tahu aku lagi mencari lapangan yang dikatakan Mbak Tica tadi? Ah, positive thinking saja lah. Belum tentu juga si Bapak tua ini penjahat. Akhirnya, aku mengikuti Bapak tua tadi. Tapi kok jauh ya. Tadi Mbak Tica sempat bilang kalau rumahnya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit dari warung tempatku nge-charge HP tadi. Aku terus bersholawat waktu itu, meminta pertolongan agar diselamatkan oleh Allah.
Si Bapak tua berhenti dan menunjukkan lapangan yang dia maksud. Hehe. Ternyata Si Bapak tua tidak punya niat jahat kok. Alhamdulillah. Aku segera masuk ke gang di dekat lapangan, sesuai petunjuk Mbak Tica. Hemm, tapi jalan di dalam gang ini berbeda dengan gang waktu aku berangkat tadi. Ah, mungkin karena malam jadi terlihat berbeda, pikirku saat itu. Kemudian, aku mengikuti saja jalan sesuai instingku. Dan sampailah aku ke sebuah jalan super sempit dan gelap yang hanya muat dilewati oleh satu motor. Jalan itu tidak dilapisi aspal, melainkan hanya tanah coklat yang agak basah. Jalanannya meliuk-liuk dan panjang. Sisi kanan-kirinya dibatasi oleh besek bambu yang berjajar sepanjang jalanan. Aku masih terus bergumam sholawat dan basmalah memohon perlindungan Allah. Kalau di tempat sesempit ini sih, aku lebih mengkhawatirkan adanya makhluk gaib jahat daripada manusia jahat. Bahkan pikiran bodoh sempat menghinggapi otakku: jangan-jangan jalanan ini berujung pada dunia lain?
Hahaha.
Ternyata jalanan tersebut berujung pada jalan raya yang juga gelap dan sepi. Dan jelaslah semuanya! Lapangan yang dimaksud oleh si bapak tua dan Mbak Tica adalah lapangan yang berbeda. Ini berarti aku masih tersesat! Well, sekarang ada dua pilihan: masuk ke jalan raya yang gelap itu tanpa tahu jalan itu menuju ke arah mana atau kembali menyusuri jalanan sempit yang gelap tadi sampai kembali ke lapangan dan menelepon Mbak Tica. Aku memilih yang terakhir.
Masih dengan membaca basmalah dan sholawat, aku kembali menyusuri jalanan sempit itu. Di tengah perjalanan, satu tas oleh-olehku jatuh. Aku berhenti. Dengan kepala menunduk dan melihat ke bawah (aku tidak berani menoleh kemana-mana sebab takut akan melihat sesuatu yang tidak lazim), aku berusaha men-jagang motor tetapi tidak bisa karena jalanan yang tidak rata. Aku turun dari motor. Satu tangan memegangi motor agar tidak jatuh, dan satu tangan lagi berusaha menggapai tas oleh-olehku yang jatuh. Setelah berhasil, aku segera kabur dari jalanan seram itu. Setelah selamat dari jalanan seram itu, aku berhenti di tepi lapangan yang ditunjukkan oleh Bapak tua tadi. Aku menelepon Mbak Tica dan menanyakan alamat lengkap rumahnya. Ternyata, rumah Mbak Tica ada di tempat bernama Babakan Lengsir. Babakan Lengsir ini berada di daerah Lembang yang menuju arah Maribaya. Setelah bertanya tiga kali, akhirnya aku menemukan gang menuju rumah Mbak Tica. Alhamdulillah... Aku bernapas lega.
Keesokan harinya, pada tanggal 19 Februari 2013, Mbak Tica berencana mengajakku berkunjung ke rumah sakit tempat suaminya dirawat. Namun karena hujan, rencana itu batal. Akhirnya setelah cuaca agak cerah, aku keluar rumah lagi menggunakan motor Mbak Tica. Kali ini tujuanku adalah Cihampelas Walk yang katanya bagus. Menemukan Cihampelas Walk dari daerah Lembang cukup gampang. Ikuti saja papan hijau penunjuk jalan.
Jujur ya, buat aku yang baru pertama kali ke Ciwalk (Cihampelas Walk) ini bangunannya cukup membingungkan. Hehe. Aku tidak paham mana yang bagian Yogya Walk (kalau gak salah sih gitu namanya, hehe), mana yang bagian Ciwalk. Bego ya? Hehe. Tapi konsep mall nya memang bagus. Ada bagian outdoor yang dibikin dengan konsep Broadway. Sayang sekali aku sengaja tidak membawa kamera. Pikirku saat itu, halah cuma mall aja pake difoto. Eh ternyata, di sana banyak yang melakukan pemotretan -_-a
Buat yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya, pernah jalan-jalan ke Ciputra World? Di lantai di bawah XXI juga dibikin dengan konsep Broadway, tidak jauh beda dengan di Cihampelas Walk, hanya saja yang di Ciputra World tidak dibikin outdoor. By the way, terus kalau hujan gimana ya nasib si broadway yang di Cihampelas Walk?
Biar jalan-jalannya gak garing, aku membeli sepotong kue (apa ya namanya?) di BreadTalk. Aku lupa nama kuenya, pokoknya bentuknya bulat dan berisi cream, lalu dibberi topping kacang almond. It’s my favourite! Hoho.
Setelah duduk-duduk gak jelas, keliling-keliling gak jelas, berdiri-berdiri gak jelas, aku pun keluar dari mall dan melanjutkan melihat-lihat jalan Cihampelas yang katanya mirip jalan Malioboro di Jogja. Aku tidak bisa membandingkan karena belum pernah mampir di Malioboro. Di jalan Cihampelas ini banyak pedagang kaki lima yang menjual oleh-oleh khas Bandung, mulai dari kaus sampai pisang sale. Selain pedagang kaki lima, berjejer juga toko-toko yang menjual pakaian dan kaus-kaus Bandung. Aku masuk ke dalam beberapa toko untuk membandingkan harganya. Dan... Yang paling murah tetap saja di kaki lima. Hehehe. Jangan khawatir soal kualitas. Kaus dengan bahan dan ukuran yang sama dijual seharga Rp 15.000,- di kaki lima tapi berubah harga menjadi Rp 16.500,- di toko. Yah, memang hanya selisih Rp 1.500,- tetapi kalau beli banyak kan selisihnya juga jadi banyak. Apalagi buat backpacker dan para pelancong ala ransel. Iya kan? Iya kan? Hehe.
Setelah tawar-menawar, aku membeli dua kaus berwarna hitam dan putih. Ohya, kalau jalan-jalan ke Bandung dan ingin membeli kaus Bandung, sebaiknya beli saja di kaki lima Cihampelas, sebab di tempat lain harganya bisa jauh lebih tinggi. Seperti ketika aku membeli kaus di pasar buah Lembang. Kaus dengan bahan yang sama tadi harganya mencapai Rp 24.000,-. Dasar wong dodolan...
Puas melihat-lihat jalan Cihampelas, aku segera kembali ke daerah Lembang. Aku tidak mau berkeliaran di jalan sampai malam, bisa-bisa aku tersesat lagi seperti kemarin. Dan Alhamdulillah, aku tidak tersesat lagi kali ini. Aku sudah hafal jalan menuju rumah Mbak Tica setelah tersesat gak karuan kemarin.
Sebelum pergi ke Cihampelas, aku sempat jajan siomay di warung pinggir jalan daerah Lembang. Aku ingin merasakan makan siomay di tempat asalnya. Hehe. Tapi ternyata, rasanya sama saja seperti di Surabaya atau Sidoarjo. Ikan tengirinya kurang berasa nih. Ya maklum, harganya saja cuma Rp 8.000,-. Itu pun sudah ditambah dengan es jeruk. Ohya, kebiasaan di Jawa Barat ini ternyata kalau makan di warung secara otomatis akan mendapat teh tawar gratis. Tapi karena lidahku tidak terlalu cocok dengan teh tawar, aku selalu memesan minum. Yah, setidaknya teh manis. Atau air putih saja sekalian daripada teh tawar. Hehe. Kalau itu sih menurut selera masing-masing yaa.
Waduh, udah kepanjangan nih ya, ceritanya? Okelah, dilanjutkan di posting selanjutnya saja yaa.. hehe. See ya!

lanjutan ceritanya bisa di baca di sini ^^

Kamis, 31 Januari 2013

Rumah Kedua Sikluser


Pernah menonton serial FRIENDS? Serial tersebut menceritakan tentang kehidupan beberapa orang sahabat yang tinggal di bawah satu atap yang sama. Kami, para Sikluser, juga memiliki cerita tentang hidup di bawah satu atap yang sama.
Sikluser adalah sebutan bagi anggota PLH SIKLUS ITS (baca di sini). Tidak peduli apakah ia Anggota Muda (AM), Anggota Penuh (AP), maupun Anggota Luar Biasa (ALB). Setelah dilantik menjadi anggota, ia juga termasuk Sikluser.
PLH SIKLUS ITS memiliki sebuah basecamp atau sekretariat yang biasa kami sebut ‘sekret’. Sekret kami terletak di lantai dua gedung M-Web Kampus ITS Surabaya. Lantai dua gedung M-Web terdiri dari tiga ruangan. Dua ruang yang terletak di ujung barat dan timur memiliki ukuran yang cukup luas. Ruangan di ujung barat digunakan untuk sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa ITS (BEM ITS), sedangkan ruangan di ujung timur digunakan untuk sekretariat Pramuka ITS. Di tengah kedua ruangan tersebut, ada satu lagi ruangan yang dua kali lebih luas. Ruang tengah ini disekat menjadi tiga bagian dengan luas yang sama besar untuk dijadikan sekretariat tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yaitu Resimen Mahasiswa (Menwa), Koperasi Mahasiswa (Kopma), dan PLH SIKLUS ITS. Sekretariat Kopma terletak di tengah antara sekretariat Menwa dan PLH SIKLUS ITS. Sekretariat Menwa terletak di dekat sekretariat BEM. Sedangkan sekret-nya para Sikluser terletak di dekat sekretariat Pramuka. Hubungan per-tetangga-an kami cukup harmonis lah, meskipun kadang-kadang agak terganggu dengan suara super berisik dari sekretariat Kopma. Yang paling menyebalkan adalah ketika ada seseorang yang ingak-inguk di depan sekret kami, lalu ketika ditanya ada perlu apa, dia menjawab, “mau ambil jas almamater”. Jas almamater adalah salah satu produk yang dijual oleh Kopma. Begitu juga ketika BEM mengadakan lomba, beberapa pendaftar biasanya akan kesasar di sekret kami. Yah, maklum sih, sekret kami memang terletak tepat di depan tangga, jadi hal pertama yang dilihat begitu sampai di lantai dua adalah pintu sekret kami. Hemm, tapi lama-lama sebel juga, sih, karena kejadian semacam ‘kesasar’ itu sangat sering terjadi. Kalau sudah kewalahan meladeni orang-orang yang kesasar itu, maka  kami akan membiarkan mereka berdiri ingak-inguk di depan pintu dan tidak akan menjawab pertanyaan mereka. Kami berpura-pura tidak melihat maupun mendengar mereka. Setelah bosan ber-ingak-inguk, mereka akan pergi dan mencari jalan yang benar. Hahaha. Salah sendiri tidak melihat stiker yang sudah kami tempel di samping pintu. Di sana, kan, sudah terpampang nyata (Syahrini mode on) gambar lambang dan nama organisasi PLH SIKLUS ITS. Yang paling menyenangkan adalah bertetangga dengan Pramuka. Kadang-kadang setelah berkegiatan, ketika ada makanan lebih, mereka akan menyetorkannya ke sekret kami. Hehe.
Sekret kami, selain menjadi prasarana dari PLH SIKLUS ITS, juga menjadi rumah kedua bagi kami. Ketika musim berkegiatan, sepertinya para anggota aktif lebih sering menginap di sekret daripada di kosnya masing-masing. Di sekret terdapat perlengkapan-perlengkapan yang bisa menunjang kehidupan sehari-hari kami. Di sana ada kompor, peralatan masak, peralatan makan, televisi, galon air, musholla kecil, meja, kursi, komputer, printer, bantal-bantal, karpet empuk, loker, buku-buku (kalau yang ini, sih, jarang diambil dari tempatnya), majig com, dan yang paling disukai adalah layanan wi-fi gratis selama 24 jam sehari. Kamar mandi? Jangan khawatir, di lantai 1 gedung M-web ada empat kamar mandi, masing-masing dua untuk ladies dan dua untuk gentleman. Tapi para gentleman lebih suka ber-ekspansi ke kamar mandi ladies. Aku juga tidak tahu mengapa, mungkin karena kamar mandi gentleman sangat jorok. Sebenarnya, sih, kamar mandi ladies juga tidak begitu bersih.
Selain perlengkapan untuk kehidupan sehari-hari, di sekret kami juga disimpan perlengkapan untuk berkegiatan di alam bebas, seperti tenda, tas carrier, nesting, berbagai jenis karabiner, berbagai jenis tali, dsb.

Sekret kami berukuran sekitar 7 x 5 m2. Antara sekret kami dengan sekretariat Kopma hanya dibatasi oleh sekat dari papan setinggi sekitar 130 cm, begitu juga dengan bagian depan sekret kami. Untuk bagian belakang dan bagian yang berbatasan dengan sekretariat Pramuka, langsung menempel ke dinding. Hemm, pusing, ya? Baiklah, begini denah gedung M-Web Lantai 2:

denah Gedung M-Web Lantai 2
Karena papan sekat yang pendek itu, orang-orang di luar area sekret bisa mengintip aktivitas kami di dalam. Untuk menjaga privasi aktivitas, maka kami menambah tinggi sekat dengan memasang gorden di atas papan sekat. Dengan demikian, sekat yang mengelilingi sekret kami bertambah tinggi menjadi dua meter, sehingga aktivitas kami di dalam sekret tidak bisa lagi diintip dari luar.
Area di dalam sekret kami dibagi menjadi enam bagian, yaitu ruang tamu, ruang tengah, ruang administrasi, ruang apa aja boleh, dapur super mini, dan musholla kecil. Nah, berikut ini denahnya:
denah Sekret
Ruang sekret sudah mengalami perombakan sebanyak tiga kali hingga saat ini, sebab pengurus akan selalu meningkatkan dan memperbaiki sarana dan prasarana milik PLH SIKLUS ITS. Denah di atas pun bisa berubah suatu saat nanti. Bahkan, lokasi sekret bisa juga berubah jika sudah mendapatkan sekret yang lebih nyaman dan aman.
Sebelum berlokasi di gedung M-Web lantai 2, sekret kami berada di ruang L-100 yang terletak di area kantin pusat Kampus ITS, bertetangga dengan BEM dan Kopma. Akan tetapi, pada tahun 2009 area kantin dirombak, sehingga sekretariat organisasi yang berada di area kantin dialihkan di gedung M-Web lantai 2. Kalau dibandingkan dengan kenyamanan dan keamanannya, sekret kami yang dulu jauh lebih nyaman dan aman daripada yang sekarang. Menurut kabar yang ada, sebenarnya sekret di gedung M-Web hanya bersifat sementara sebelum pihak kampus memberi lokasi yang lebih layak.
Setiap sikluser yang aktif pasti memiliki kenangan masing-masing di sekret. Aku sendiri memiliki banyak kenangan di sekret bersama Janet, Nurma, Norma, Zahroh, Faid, Haris, Arab, Gembel, Mbak Lusi, Mbak Senja, Mbak Matus, Mas Iteung, Bang Cipto, Putri, Meita, Sandi, Sulis, Ana Yuni, Bang Ochim, Anis, Bodro, Bonas, Martha, Muhim, Mas Dayat, Mas Iriel,... Saking banyaknya, aku sampai lupa harus menyebut siapa lagi. Hehe.
Sebenarnya di posting-an kali ini aku bermaksud menceritakan tentang kebersamaan kami. Tapi sepertinya kebersamaan itu tidak bisa dirangkum dalam satu tulisan. Aku ingin menceritakan setiap detail kebersamaan itu, hingga suatu saat nanti, ketika aku sudah tua, aku akan tersenyum mengingat kenangan yang pernah kami lalui bersama. Nantikan posting-an selanjutnya ya.. (ada gak ya, yang menantikan? hehe)