Kamis, 28 Februari 2013

Bandung-Banjar: My First (failed?) Backpacking

Hello There!
It’s really long time for me to not see this blog. Miss it so much!
Seminggu yang lalu, dari tanggal 17-24 Februari 2013 aku mengadakan suatu perjalanan yang lumayan jauh. FYI, aku berdomisili di Jawa Timur, tepatnya Sidoarjo (1 jam dari Surabaya). Lalu, dengan bondo nekat alias Bonek, aku mengadakan perjalanan ke Jawa Barat. Aku tidak sendirian dalam perjalanan ini. Well, let me tell you everything about this travelling.
Dulu aku pernah menulis tentang resolusi di tahun 2013, dan salah satunya adalah melakukan perjalanan ke Jawa Barat untuk memulai proyek “Around the Java” ku. Aku girang sekali ketika mendengar bahwa Nurma, Janet, dan Norem akan pergi ke Bandung untuk melakukan tes kesehatan dan pembekalan sebelum melakukan ekspedisi ke Sulawesi yang diadakan oleh Kopasus.




setelah sarapan sebelum Norem, Janet dan Nurma berangkat ke Batujajar untuk tes kesehatan (dari ki-ka: Norem, Janet, Nurma, my self)
Menurut jadwal awal, tes kesehatan dilakukan pada tanggal 18 Februari, dan pembekalan akan dimulai pada tanggal 21 Februari. Maka menurut perhitungan, masih ada tanggal 19 dan 20 Februari untuk setidaknya bersama menghabiskan waktu melihat-lihat Bandung. Namun ternyata, setibanya di Bandung, ada perubahan jadwal. Ternyata, setelah tes kesehatan para peserta ekspedisi harus geser saat itu juga ke lokasi pembekalan materi di daerah Situ Lembang. Alhasil, kami harus berpisah jalan pada tanggal 18 Februari. Janet, Nurma, dan Norem pergi ke daerah Batu Jajar untuk tes kesehatan yang dilanjutkan dengan pembekalan materi di daerah Situ Lembang. Sedangkan aku, setelah sebelumnya bingung memikirkan bagaimana nasibku di tempat yang jauhnya lebih dari 700 Km dari Jawa Timur, akhirnya memutuskan untuk menumpang di rumah salah seorang Sikluser yang kebetulan berada di daerah Lembang. Hei, Situ Lembang dan Lembang ini bukan daerah yang sama atau berdekatan ya! Menurut Bapak yang aku tanya, ternyata Situ Lembang berada di dekat daerah Tasik, sedangkan Lembang adalah dataran tinggi yang terletak di Bandung Utara.
Aku berangkat ke Bandung naik kereta api Pasundan dengan tujuan stasiun Kiara Condong pada tanggal 17 Februari bersama Janet dan Nurma (Norem sudah berangkat ke Bandung satu hari sebelumnya bersama rombongan peserta ekspedisi yang lain). Setibanya di Bandung, kami menginap semalam di sekretariat mahasiswa KSE ITB (beasiswa Karya Salemba Empat). Esoknya, tanggal 18 Februari, aku berpisah dengan Janet, Nurma, dan Norem. Setelah tanya sana-sini, untuk pergi ke Lembang dari sekretariat KSE ITB, aku harus naik angkot dua kali oper. Pertama naik angkot jurusan terminal Ledeng, lalu dilanjutkan dengan angkot jurusan Lembang. Aku turun di Pasar Lembang, lalu dijemput oleh Mbak Tica. Mbak Tica adalah salah seorang sikluser yang empat tahun lebih tua dariku, seorang ibu rumah tangga dan sudah memiliki seorang bayi yang lucu.
Begitu bertemu dengan Mbak Tica, aku langsung curhat tentang kondisiku saat itu, bahwa aku sendirian dan sudah berpisah dengan Janet, Nurma, dan Norem.
Sesampainya di rumah Mbak Tica, ternyata Mas Bagus (suaminya Mbak Tica) sedang sakit dan akan berangkat ke rumah sakit untuk opname. Mbak Tica tidak bisa menemani Mas Bagus ke rumah sakit karena harus menjaga Rezvan (bayinya Mbak Tica) yang juga sedang tidak enak badan. Yah, kebetulan sekali aku datang di saat Mbak Tica sedang repot-repotnya.
Mbak Tica dan bayinya, Rezvan
Sampai pukul 14.00, aku menghabiskan waktu di rumah Mbak Tica untuk beristirahat, berkenalan dengan Rezvan (sumpah, Rezvan lucu banget!), dan browsing tentang Bandung. Bodohnya, sebelum berangkat ke Bandung, aku sama sekali tidak mencari tahu tentang Bandung. Yah, ini salah satu evaluasi kalau aku akan pergi kemana-mana lagi. Kemudian, setelah lewat pukul 14.00 aku baru keluar rumah Mbak Tica. Aku bingung mau pergi kemana. Mau ke Tangkuban Perahu (hanya 30 menit dari rumah Mbak Tica), sudah terlalu siang. Mau mampir ke mapala Ganesha (mahasiswa pencinta alam ITB) atau UPI, tapi tidak memiliki kenalan di sana. Sebelumnya, aku mendapat kabar dari Janet bahwa ternyata para peserta yang berjenis kelamin wanita akan diberangkatkan ke Situ Lembang keesokan harinya, jadi hari ini seharusnya masih bisa bertemu lagi. Tetapi, kami terlalu lama memutuskan akan pergi ke mana, sebab jarak Lembang-Batu Jajar (tempat mereka tes kesehatan) cukup jauh. Akhirnya, karena sudah siang dan tidak mau menghabiskan waktu lagi, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri dengan meminjam motor Mbak Tica. Dan pilihanku hari itu adalah pasar buah Lembang, kampus UPI, dan Rumah Sosis.
You have to know bahwa jalan-jalan sendirian itu sangat tidak menyenangkan. Sebagus apa pun tempat yang kita kunjungi, tetapi kalau sendirian ya tetap saja tidak akan menyenangkan. Aku ingat bertahun-tahun yang lalu Mbak Tica berkata, “naik gunung itu bukan soal ke mana, tetapi dengan siapa.”
Aku sangat setuju dengan kalimat itu, tetapi aku menggubahnya menjadi, “bukan soal kemana, tetapi dengan siapa”. Maksudku, tidak menjadi masalah ke mana kita pergi asalkan bersama dengan orang-orang yang menyenangkan. Aku jadi menyesal tidak menerima ajakan Janet tadi. hikz.
Oke, cukup sekian menyesalnya. Now I will tell you tentang tempat-tempat yang kukunjungi hari itu. Pertama, Pasar Buah Lembang. Karena bukan musim liburan dan bukan weekend, pasar ini sangaaaaaaaat sepi. Sebenarnya, aku tidak melihat pengunjung lain selain aku. Tadi ketika Mbak Tica bercerita tentang pasar buah ini, aku membayangkan pasar buah yang besar dan sangat ramai. Tetapi ternyata, pasar ini kecil dan hanya terdiri dari beberapa warung. Ada beberapa warung yang menjual oleh-oleh Bandung. Aku mampir ke salah satu warung untuk membeli salegor (pisang sale goreng). Aku juga mampir ke salah satu warung yang menjual kaus Bandung dan membeli dua kaus dengan harga Rp 24.000,-/kaus.
Setelah mengunjungi Pasar Buah, aku beranjak menyusuri jalanan Lembang, lalu tiba-tiba aku sudah berada di jalanan menuju Bandung kota. Karena sudah menjelang sore, aku berhenti saja di kampus UPI. Begitu memasuki area kampus, aku langsung mengaguminya. Kampus ini cukup luas dan besar, tetapi hanya memiliki satu area parkir besar. Di beberapa tempat terdapat papan bertuliskan “BUDAYAKAN BERJALAN KAKI DALAM KAMPUS”.
BUDAYAKAN BERJALAN KAKI DALAM KAMPUS
Benar-benar langkah kongkrit untuk mengurangi emisi karbondioksida. Aku tidak melihat adanya publikasi soal eco campus di UPI, tetapi sikapnya sangat eco campus. Talk less, do more! Please, don’t ask me about eco campus in ITS.
Setelah dari kampus UPI, aku kembali ke Lembang. Namun sebelum mencapai Lembang, aku melihat sebuah baliho besar bertuliskan Rumah SOSIS. Karena tertarik ingin melihat dalamnya rumah sosis (apakah di dalamnya ada banyak sosis?), aku masuk. Dan ternyata... Lagi-lagi aku menjadi satu-satunya pengunjung di sana. Krik krik krik.
Terdapat enam bagian di dalam rumah sosis: kolam renang, playground untuk anak-anak, toko oleh-oleh, restoran, toko sosis, dan kedai sosis bakar. Restoran dan toko oleh-oleh hanya buka di hari weekend. Karena tidak tertarik dengan kolam renang dan playgroundnya, aku pun melihat-lihat di toko sosis. Sebelum memasukinya, aku membayangkan betapa meriahnya toko sosis itu. Namanya saja toko sosis di dalam rumah sosis, pastilah sosis-sosis di dalamnya adalah sosis-sosis yang istimewa dan meriah. Namun ternyata... Toko ini tidak lebih luas daripada minimart. Di beberapa sudut toko terdapat beberapa freezer untuk menyimpan sosis-sosis yang dijual. Tidak ada sosis-sosis yang digantung dari atas langit-langit. Tidak ada poster-poster sosis yang ditempel di dindiing toko. Tidak ada mainan berbentuk sosis di dalamnya. Yah, everything is just usual. Ternyata yang meriah hanya namanya. Mengerti kan maksudku? Sebuah bangunan yang disebut Rumah Cermin, maka di dalamnya terdapat berbagai macam cermin di setiap bagiannya. Bangunan yang disebut Rumah Hantu juga memiliki banyak hantu di dalamnya. Yah, pokoknya bagian dalam rumah harus semeriah namanya.
Setelah melihat toko sosis yang mengecewakan, aku mampir ke kedai sosis bakar dan memesan satu tusuk sosis rasa blackpepper seharga Rp 12.000,-. Iya benar, hanya satu tusuk, karena sosisnya memang ukuran jumbo, tidak seperti sosis pada umumnya. Yang bisa kusimpulkan dari rumah sosis adalah bahwa yang istimewa hanya sosis-sosisnya: enak, besar dan panjang. Bangunan dan design nya tidak mewakili nama dari rumah sosis itu sendiri. Biasa saja.
Sosis bakar rasa blackpepper di Rumah Sosis
Dari rumah sosis, aku langsung beranjak ke daerah Lembang. Karena ternyata hari belum gelap, aku memutuskan untuk mengunjungi satu tempat lagi: Floating Market (Pasar Apung). And you know what? Lagi-lagi aku mengunjungi tempat yang seeepiiii. Sebelum membayar tiket masuk seharaga Rp 10.000,- dan biaya parkir Rp 1.000,-, aku bertanya kepada petugas di pintu masuk.
Aku: Pak, kok kelihatannya sepi ya. Lagi tutup ya Pak?
Petugas: Buka kok neng, ramenya pas Sabtu Minggu.
Aku: Lha yang disebut pasar apungnya sebelah mana Pak? (soalnya dari pintu masuk aku cuma bisa melihat warung-warung dan kebun)
Petugas: itu di sebelah sana neng (sambil menunjuk ke suatu tempat), tapi sekarang lagi tutup.
Aku: Tadi katanya buka...
Petugas: Pasar apungnya lagi pada tutup neng, soalnya sepi pengunjung, yang buka cuma dua warung yang itu sama yang itu (sambil menunjuk ke dua warung yang buka).
Aku: *dalam hati* percuma dong bayar Rp 10.000,- tapi gak bisa lihat pasar apung nya.
Aku: Oo, gak jadi deh Pak. Maaf ya Pak. (kabur)
Dasar. Kalau pasar apungnya (yang bahkan jadi nama tempatnya) tutup, kenapa pula masih dibuka. Hrrr!!
Selepas itu, aku mampir ke sebuah warung pinggir jalan untuk mencicipi ketan bakar. Ada tiga pilihan topping untuk si ketan bakar: oncom, parutan kelapa yang disangrai, dan kacang. Aku memilih parutan kelapa dan kacang untuk topping. Ternyata... Rasanya biasa saja. Si ketan bakar tidak berasa seperti ketan, tetapi seperti nasi. Pernah makan lemper kan? Aku membayangkan rasa ketan si ketan bakar ini mirip dengan rasa ketan si lemper: wangi dan sedikit berminyak. Eh ternyata cuma berasa seperti nasi yang dibakar, sama sekali tidak ada wangi ketannya. Yah, maklum lah warung pinggir jalan. Tapi menurutku, harga Rp 5.000,- terlalu mahal untuk ketan bakar macam begitu.
Baiklah, perut sudah terisi dan oleh-oleh sudah di tangan. Sekarang saatnya pulang ke rumah Mbak Tica. Seharusnya, dari warung ketan bakar tadi, rumah Mbak Tica dapat ditempuh dengan waktu kurang dari lima belas menit. Tetapi... I was lost! Sebelum berangkat jalan-jalan tadi, Mbak Tica menggambarkan peta sederhana untukku. Hemm. Tapi aku tidak menemukan satu tanda jalan yang digambarkan Mbak Tica di peta. Dan mampusnya, aku tidak mencatat alamat lengkap rumah Mbak Tica. Mampusnya lagi, HP ku secara sempurna mati karena kehabisan baterai. Setelah berputar-putar selama satu jam (sudah menjelang Maghrib), aku memutuskan untuk berhenti di pangkalan ojek terdekat. Aku bilang ke bapak-bapak tukang ojek bahwa aku orang Surabaya yang sedang tersesat, HP ku mati, lupa alamat rumah yang akan aku tuju, dan peta yang kubawa tidak bisa dijadikan petunjuk lagi. Dengan tanpa perasaan, seorang tukang ojek malah menudingku sambil berkata, “Jangan-jangan Neng ini penjahat hipnotis ya?!”
Sempurna sudah. Aku sedang tersesat dan disangka penjahat! Kenapa nggak sekalian saja dipanggilin polisi? *mewek*
Beruntungnya, ada salah seorang tukang ojek yang berbaik hati. Bapak tukang ojek itu mengantarku ke warung terdekat dan meminta tolong kepada pemilik warung agar aku bisa menumpang nge-charge HP. Begitu HP ku bisa menyala, aku langsung menghubungi Mbak Tica. Dengan bodohnya, aku lupa menanyakan alamat lengkap rumah Mbak Tica. Aku malah bertanya, “Mbak, nanti belok di mana?”
Mbak Tica menjawab, “kamu ikuti jalan besar aja, nanti setelah nemu lapangan kosong, baru belok ke gang. Kalau sudah sampai di sana telepon lagi, ya.”
Setelah berterimakasih kepada pemilik warung dan bapak-bapak tukang ojek, aku bergegas menyusuri jalan sesuai petunjuk Mbak Tica. Karena sudah malam dan sedikitnya lampu jalan, kesannya jadi seram. Tiba-tiba di tengah perjalanan, aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Entah darimana, aku mendapat teori bahwa jika sedang berkendara dengan kendaraan bermotor dan diikuti dari jarak yang cukup dekat, sebaiknya segera berhenti mendadak agar si penguntit bisa mendahului kita sehingga kita bisa berbalik arah dan kabur secepatnya. Aku akan mengamalkan teori itu, tetapi belum sempat berhenti mendadak si penguntit sudah menjajari ku. Oh geez, ternyata si penguntit adalah seorang lelaki tua. Ah, bagaimana ini kalau aku di-apa-apa-kan?! Kalau minta uang, aku kasih saja deh, toh di dompetku sisa selembar uang lima puluh ribuan. Tapi bagaimana kalau bapak tua ini malah mau memperk*sa-ku? Oh tidaaaaaaaak! Ya Allah, selamatkan hamba-Mu Ya Allah. Sumpah, aku kuatir banget waktu itu.
Ternyata... Si Bapak tua bertanya, “Neng, bapak antarkan saja, bapak tau lapangannya kok.”
Nah lho, darimana si Bapak tua ini tahu aku lagi mencari lapangan yang dikatakan Mbak Tica tadi? Ah, positive thinking saja lah. Belum tentu juga si Bapak tua ini penjahat. Akhirnya, aku mengikuti Bapak tua tadi. Tapi kok jauh ya. Tadi Mbak Tica sempat bilang kalau rumahnya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit dari warung tempatku nge-charge HP tadi. Aku terus bersholawat waktu itu, meminta pertolongan agar diselamatkan oleh Allah.
Si Bapak tua berhenti dan menunjukkan lapangan yang dia maksud. Hehe. Ternyata Si Bapak tua tidak punya niat jahat kok. Alhamdulillah. Aku segera masuk ke gang di dekat lapangan, sesuai petunjuk Mbak Tica. Hemm, tapi jalan di dalam gang ini berbeda dengan gang waktu aku berangkat tadi. Ah, mungkin karena malam jadi terlihat berbeda, pikirku saat itu. Kemudian, aku mengikuti saja jalan sesuai instingku. Dan sampailah aku ke sebuah jalan super sempit dan gelap yang hanya muat dilewati oleh satu motor. Jalan itu tidak dilapisi aspal, melainkan hanya tanah coklat yang agak basah. Jalanannya meliuk-liuk dan panjang. Sisi kanan-kirinya dibatasi oleh besek bambu yang berjajar sepanjang jalanan. Aku masih terus bergumam sholawat dan basmalah memohon perlindungan Allah. Kalau di tempat sesempit ini sih, aku lebih mengkhawatirkan adanya makhluk gaib jahat daripada manusia jahat. Bahkan pikiran bodoh sempat menghinggapi otakku: jangan-jangan jalanan ini berujung pada dunia lain?
Hahaha.
Ternyata jalanan tersebut berujung pada jalan raya yang juga gelap dan sepi. Dan jelaslah semuanya! Lapangan yang dimaksud oleh si bapak tua dan Mbak Tica adalah lapangan yang berbeda. Ini berarti aku masih tersesat! Well, sekarang ada dua pilihan: masuk ke jalan raya yang gelap itu tanpa tahu jalan itu menuju ke arah mana atau kembali menyusuri jalanan sempit yang gelap tadi sampai kembali ke lapangan dan menelepon Mbak Tica. Aku memilih yang terakhir.
Masih dengan membaca basmalah dan sholawat, aku kembali menyusuri jalanan sempit itu. Di tengah perjalanan, satu tas oleh-olehku jatuh. Aku berhenti. Dengan kepala menunduk dan melihat ke bawah (aku tidak berani menoleh kemana-mana sebab takut akan melihat sesuatu yang tidak lazim), aku berusaha men-jagang motor tetapi tidak bisa karena jalanan yang tidak rata. Aku turun dari motor. Satu tangan memegangi motor agar tidak jatuh, dan satu tangan lagi berusaha menggapai tas oleh-olehku yang jatuh. Setelah berhasil, aku segera kabur dari jalanan seram itu. Setelah selamat dari jalanan seram itu, aku berhenti di tepi lapangan yang ditunjukkan oleh Bapak tua tadi. Aku menelepon Mbak Tica dan menanyakan alamat lengkap rumahnya. Ternyata, rumah Mbak Tica ada di tempat bernama Babakan Lengsir. Babakan Lengsir ini berada di daerah Lembang yang menuju arah Maribaya. Setelah bertanya tiga kali, akhirnya aku menemukan gang menuju rumah Mbak Tica. Alhamdulillah... Aku bernapas lega.
Keesokan harinya, pada tanggal 19 Februari 2013, Mbak Tica berencana mengajakku berkunjung ke rumah sakit tempat suaminya dirawat. Namun karena hujan, rencana itu batal. Akhirnya setelah cuaca agak cerah, aku keluar rumah lagi menggunakan motor Mbak Tica. Kali ini tujuanku adalah Cihampelas Walk yang katanya bagus. Menemukan Cihampelas Walk dari daerah Lembang cukup gampang. Ikuti saja papan hijau penunjuk jalan.
Jujur ya, buat aku yang baru pertama kali ke Ciwalk (Cihampelas Walk) ini bangunannya cukup membingungkan. Hehe. Aku tidak paham mana yang bagian Yogya Walk (kalau gak salah sih gitu namanya, hehe), mana yang bagian Ciwalk. Bego ya? Hehe. Tapi konsep mall nya memang bagus. Ada bagian outdoor yang dibikin dengan konsep Broadway. Sayang sekali aku sengaja tidak membawa kamera. Pikirku saat itu, halah cuma mall aja pake difoto. Eh ternyata, di sana banyak yang melakukan pemotretan -_-a
Buat yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya, pernah jalan-jalan ke Ciputra World? Di lantai di bawah XXI juga dibikin dengan konsep Broadway, tidak jauh beda dengan di Cihampelas Walk, hanya saja yang di Ciputra World tidak dibikin outdoor. By the way, terus kalau hujan gimana ya nasib si broadway yang di Cihampelas Walk?
Biar jalan-jalannya gak garing, aku membeli sepotong kue (apa ya namanya?) di BreadTalk. Aku lupa nama kuenya, pokoknya bentuknya bulat dan berisi cream, lalu dibberi topping kacang almond. It’s my favourite! Hoho.
Setelah duduk-duduk gak jelas, keliling-keliling gak jelas, berdiri-berdiri gak jelas, aku pun keluar dari mall dan melanjutkan melihat-lihat jalan Cihampelas yang katanya mirip jalan Malioboro di Jogja. Aku tidak bisa membandingkan karena belum pernah mampir di Malioboro. Di jalan Cihampelas ini banyak pedagang kaki lima yang menjual oleh-oleh khas Bandung, mulai dari kaus sampai pisang sale. Selain pedagang kaki lima, berjejer juga toko-toko yang menjual pakaian dan kaus-kaus Bandung. Aku masuk ke dalam beberapa toko untuk membandingkan harganya. Dan... Yang paling murah tetap saja di kaki lima. Hehehe. Jangan khawatir soal kualitas. Kaus dengan bahan dan ukuran yang sama dijual seharga Rp 15.000,- di kaki lima tapi berubah harga menjadi Rp 16.500,- di toko. Yah, memang hanya selisih Rp 1.500,- tetapi kalau beli banyak kan selisihnya juga jadi banyak. Apalagi buat backpacker dan para pelancong ala ransel. Iya kan? Iya kan? Hehe.
Setelah tawar-menawar, aku membeli dua kaus berwarna hitam dan putih. Ohya, kalau jalan-jalan ke Bandung dan ingin membeli kaus Bandung, sebaiknya beli saja di kaki lima Cihampelas, sebab di tempat lain harganya bisa jauh lebih tinggi. Seperti ketika aku membeli kaus di pasar buah Lembang. Kaus dengan bahan yang sama tadi harganya mencapai Rp 24.000,-. Dasar wong dodolan...
Puas melihat-lihat jalan Cihampelas, aku segera kembali ke daerah Lembang. Aku tidak mau berkeliaran di jalan sampai malam, bisa-bisa aku tersesat lagi seperti kemarin. Dan Alhamdulillah, aku tidak tersesat lagi kali ini. Aku sudah hafal jalan menuju rumah Mbak Tica setelah tersesat gak karuan kemarin.
Sebelum pergi ke Cihampelas, aku sempat jajan siomay di warung pinggir jalan daerah Lembang. Aku ingin merasakan makan siomay di tempat asalnya. Hehe. Tapi ternyata, rasanya sama saja seperti di Surabaya atau Sidoarjo. Ikan tengirinya kurang berasa nih. Ya maklum, harganya saja cuma Rp 8.000,-. Itu pun sudah ditambah dengan es jeruk. Ohya, kebiasaan di Jawa Barat ini ternyata kalau makan di warung secara otomatis akan mendapat teh tawar gratis. Tapi karena lidahku tidak terlalu cocok dengan teh tawar, aku selalu memesan minum. Yah, setidaknya teh manis. Atau air putih saja sekalian daripada teh tawar. Hehe. Kalau itu sih menurut selera masing-masing yaa.
Waduh, udah kepanjangan nih ya, ceritanya? Okelah, dilanjutkan di posting selanjutnya saja yaa.. hehe. See ya!

lanjutan ceritanya bisa di baca di sini ^^

Kamis, 31 Januari 2013

Rumah Kedua Sikluser


Pernah menonton serial FRIENDS? Serial tersebut menceritakan tentang kehidupan beberapa orang sahabat yang tinggal di bawah satu atap yang sama. Kami, para Sikluser, juga memiliki cerita tentang hidup di bawah satu atap yang sama.
Sikluser adalah sebutan bagi anggota PLH SIKLUS ITS (baca di sini). Tidak peduli apakah ia Anggota Muda (AM), Anggota Penuh (AP), maupun Anggota Luar Biasa (ALB). Setelah dilantik menjadi anggota, ia juga termasuk Sikluser.
PLH SIKLUS ITS memiliki sebuah basecamp atau sekretariat yang biasa kami sebut ‘sekret’. Sekret kami terletak di lantai dua gedung M-Web Kampus ITS Surabaya. Lantai dua gedung M-Web terdiri dari tiga ruangan. Dua ruang yang terletak di ujung barat dan timur memiliki ukuran yang cukup luas. Ruangan di ujung barat digunakan untuk sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa ITS (BEM ITS), sedangkan ruangan di ujung timur digunakan untuk sekretariat Pramuka ITS. Di tengah kedua ruangan tersebut, ada satu lagi ruangan yang dua kali lebih luas. Ruang tengah ini disekat menjadi tiga bagian dengan luas yang sama besar untuk dijadikan sekretariat tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yaitu Resimen Mahasiswa (Menwa), Koperasi Mahasiswa (Kopma), dan PLH SIKLUS ITS. Sekretariat Kopma terletak di tengah antara sekretariat Menwa dan PLH SIKLUS ITS. Sekretariat Menwa terletak di dekat sekretariat BEM. Sedangkan sekret-nya para Sikluser terletak di dekat sekretariat Pramuka. Hubungan per-tetangga-an kami cukup harmonis lah, meskipun kadang-kadang agak terganggu dengan suara super berisik dari sekretariat Kopma. Yang paling menyebalkan adalah ketika ada seseorang yang ingak-inguk di depan sekret kami, lalu ketika ditanya ada perlu apa, dia menjawab, “mau ambil jas almamater”. Jas almamater adalah salah satu produk yang dijual oleh Kopma. Begitu juga ketika BEM mengadakan lomba, beberapa pendaftar biasanya akan kesasar di sekret kami. Yah, maklum sih, sekret kami memang terletak tepat di depan tangga, jadi hal pertama yang dilihat begitu sampai di lantai dua adalah pintu sekret kami. Hemm, tapi lama-lama sebel juga, sih, karena kejadian semacam ‘kesasar’ itu sangat sering terjadi. Kalau sudah kewalahan meladeni orang-orang yang kesasar itu, maka  kami akan membiarkan mereka berdiri ingak-inguk di depan pintu dan tidak akan menjawab pertanyaan mereka. Kami berpura-pura tidak melihat maupun mendengar mereka. Setelah bosan ber-ingak-inguk, mereka akan pergi dan mencari jalan yang benar. Hahaha. Salah sendiri tidak melihat stiker yang sudah kami tempel di samping pintu. Di sana, kan, sudah terpampang nyata (Syahrini mode on) gambar lambang dan nama organisasi PLH SIKLUS ITS. Yang paling menyenangkan adalah bertetangga dengan Pramuka. Kadang-kadang setelah berkegiatan, ketika ada makanan lebih, mereka akan menyetorkannya ke sekret kami. Hehe.
Sekret kami, selain menjadi prasarana dari PLH SIKLUS ITS, juga menjadi rumah kedua bagi kami. Ketika musim berkegiatan, sepertinya para anggota aktif lebih sering menginap di sekret daripada di kosnya masing-masing. Di sekret terdapat perlengkapan-perlengkapan yang bisa menunjang kehidupan sehari-hari kami. Di sana ada kompor, peralatan masak, peralatan makan, televisi, galon air, musholla kecil, meja, kursi, komputer, printer, bantal-bantal, karpet empuk, loker, buku-buku (kalau yang ini, sih, jarang diambil dari tempatnya), majig com, dan yang paling disukai adalah layanan wi-fi gratis selama 24 jam sehari. Kamar mandi? Jangan khawatir, di lantai 1 gedung M-web ada empat kamar mandi, masing-masing dua untuk ladies dan dua untuk gentleman. Tapi para gentleman lebih suka ber-ekspansi ke kamar mandi ladies. Aku juga tidak tahu mengapa, mungkin karena kamar mandi gentleman sangat jorok. Sebenarnya, sih, kamar mandi ladies juga tidak begitu bersih.
Selain perlengkapan untuk kehidupan sehari-hari, di sekret kami juga disimpan perlengkapan untuk berkegiatan di alam bebas, seperti tenda, tas carrier, nesting, berbagai jenis karabiner, berbagai jenis tali, dsb.

Sekret kami berukuran sekitar 7 x 5 m2. Antara sekret kami dengan sekretariat Kopma hanya dibatasi oleh sekat dari papan setinggi sekitar 130 cm, begitu juga dengan bagian depan sekret kami. Untuk bagian belakang dan bagian yang berbatasan dengan sekretariat Pramuka, langsung menempel ke dinding. Hemm, pusing, ya? Baiklah, begini denah gedung M-Web Lantai 2:

denah Gedung M-Web Lantai 2
Karena papan sekat yang pendek itu, orang-orang di luar area sekret bisa mengintip aktivitas kami di dalam. Untuk menjaga privasi aktivitas, maka kami menambah tinggi sekat dengan memasang gorden di atas papan sekat. Dengan demikian, sekat yang mengelilingi sekret kami bertambah tinggi menjadi dua meter, sehingga aktivitas kami di dalam sekret tidak bisa lagi diintip dari luar.
Area di dalam sekret kami dibagi menjadi enam bagian, yaitu ruang tamu, ruang tengah, ruang administrasi, ruang apa aja boleh, dapur super mini, dan musholla kecil. Nah, berikut ini denahnya:
denah Sekret
Ruang sekret sudah mengalami perombakan sebanyak tiga kali hingga saat ini, sebab pengurus akan selalu meningkatkan dan memperbaiki sarana dan prasarana milik PLH SIKLUS ITS. Denah di atas pun bisa berubah suatu saat nanti. Bahkan, lokasi sekret bisa juga berubah jika sudah mendapatkan sekret yang lebih nyaman dan aman.
Sebelum berlokasi di gedung M-Web lantai 2, sekret kami berada di ruang L-100 yang terletak di area kantin pusat Kampus ITS, bertetangga dengan BEM dan Kopma. Akan tetapi, pada tahun 2009 area kantin dirombak, sehingga sekretariat organisasi yang berada di area kantin dialihkan di gedung M-Web lantai 2. Kalau dibandingkan dengan kenyamanan dan keamanannya, sekret kami yang dulu jauh lebih nyaman dan aman daripada yang sekarang. Menurut kabar yang ada, sebenarnya sekret di gedung M-Web hanya bersifat sementara sebelum pihak kampus memberi lokasi yang lebih layak.
Setiap sikluser yang aktif pasti memiliki kenangan masing-masing di sekret. Aku sendiri memiliki banyak kenangan di sekret bersama Janet, Nurma, Norma, Zahroh, Faid, Haris, Arab, Gembel, Mbak Lusi, Mbak Senja, Mbak Matus, Mas Iteung, Bang Cipto, Putri, Meita, Sandi, Sulis, Ana Yuni, Bang Ochim, Anis, Bodro, Bonas, Martha, Muhim, Mas Dayat, Mas Iriel,... Saking banyaknya, aku sampai lupa harus menyebut siapa lagi. Hehe.
Sebenarnya di posting-an kali ini aku bermaksud menceritakan tentang kebersamaan kami. Tapi sepertinya kebersamaan itu tidak bisa dirangkum dalam satu tulisan. Aku ingin menceritakan setiap detail kebersamaan itu, hingga suatu saat nanti, ketika aku sudah tua, aku akan tersenyum mengingat kenangan yang pernah kami lalui bersama. Nantikan posting-an selanjutnya ya.. (ada gak ya, yang menantikan? hehe)

Selasa, 29 Januari 2013

Hewan Kecil "nggilani"


Salah satu sifat burukku adalah menunda-nunda pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan saat itu juga. Misalnya waktu mengerjakan tugas kuliah, meskipun aku sedang luang dan bisa mengerjakannya saat itu juga, tetapi aku akan lebih memilih mengerjakannya tepat di malam sebelum besok dikumpulkan. Ada satu kejadian ‘nggilani’ akibat sifat burukku ini.
Waktu itu aku masih kuliah di semester 2, dan sedang menjalani pola pembinaan Anggota Muda (AM) di PLH SIKLUS ITS (baca di sini). Salah satu kegiatan dalam pola pembinaan itu adalah praktek gunung hutan yang diadakan di gunung Semar, Pundak, dan sekitarnya. Karena tidak memiliki tas carrier, aku meminjam ke salah seorang teman sesama AM XXI yang tidak mengikuti kegiatan tersebut. Sedangkan untuk peralatan naik gunung lainnya, seperti nesting (semacam panci bersusun untuk memasak saat berkegiatan outdoor), kompor portabel, parang, matras, tenda dan lainnya, aku meminjam ke divisi logistik PLH SIKLUS ITS.
Kegiatan praktek gunung hutan berlangsung selama beberapa hari. Sepulang dari kegiatan tersebut, rasanya seluruh badanku pegal-pegal. Akhirnya begitu sampai di kos (di semester 2 kuliah aku masih ngekos), seluruh perlengkapan naik gunung yang masih tersimpan di dalam carrier yang kubawa, kuletakkan begitu saja di depan kamar kos, tanpa dibongkar. Setelah itu aku langsung mandi, dan menidurkan diri di kasur yang empuk. Hemm, nikmatnya dunia, sampai-sampai aku lupa soal harus membongkar dan membersihkan isi carrier.
Berhari-hari selanjutnya, rutinitasku berjalan seperti biasa: kuliah, SIKLUS, dan kos.
Sebenarnya di PLH SIKLUS ITS ada divisi logistik yang bertugas mengawasi perpustakaan dan logistik kepunyaan PLH SIKLUS ITS. Tapi, entah mengapa waktu itu aku tidak menerima warning dari divisi logistik untuk segera mengembalikan barang-barang yang kupinjam untuk mengikuti praktek gunung hutan. Jadilah, selama berminggu-minggu carrier dan seluruh isinya masih berada di depan kamar kosku secara “kemproh”.
Pada akhirnya, si empunya carrier akhirnya mengingatkanku untuk segera mengembalikan carriernya karena akan dibawa pergi naik gunung. Dengan jantung dag-dig-dug dan perasaan was-was, aku membuka carrier itu. Aku khawatir akan menemukan hal-hal yang tidak ingin kutemukan, misalnya hewan-hewan kecil yang bergerak dengan perutnya, yang menggeliat-geliat super “nggilani”. Hrrr.
Well done! Carrier sudah berhasil kubuka. Datanglah saatnya untuk membongkar barang-barang yang sudah dipacking di dalam carrier sejak berminggu-minggu yang lalu. Mula-mula aku mengucapkan Bismillah. Lalu dengan jantung yang masih dag-dig-dug dan perasaan was-was serta khawatir akan menemukan hewan-hewan kecil yang bergerak dengan perut dan menggeliat “nggilani”, aku mulai mengambil satu-persatu barang dari dalam carrier.
Barang pertama kuambil dengan selamat tanpa menemukan satu pun hewan kecil yang bergerak dengan perut dan menggeliat “nggilani”. Barang kedua selamat. Begitu juga dengan barang keempat dan seterusnya hingga seluruh barang berhasil kuambil dari dalam carrier.
Setelah isi carrier kosong, saatnya mencuci seluruh barang yang sejak berminggu-minggu itu tidak tersentuh. Coba bayangkan baunya. Hemm, “harum” sekali.
Aku membuat larutan sabun di dua bak berukuran sedang. Bak pertama kugunakan untuk merendam carrier, jas hujan, dan sepatu. Bak kedua untuk merendam baju-baju. Warna baju-bajuku sudah tidak jelas lagi karena sudah tercampur dengan lumpur dan dibiarkan di dalam tas carrier selama berminggu-minggu. Selanjutnya, sambil menunggu waktu merendam, aku mulai membongkar nesting. Nah, di bagian ini lah yang paling membutuhkan nyali. FYI, aku paling “nggilani” kalau melihat hewan kecil yang bergerak dengan perut dan menggeliat “nggilani”.
Bismillahirrohmanirrohiim..
Aku membongkar nesting yang sebelumnya terbungkus dengan rapat. Ohya, entah mengapa (aku lupa alasannya), nesting yang sudah digunakan untuk memasak dan makan di tempat kami camping, tidak kami cuci terlebih dahulu sebelum dibungkus dan dibawa pulang. Hemm, mungkin saja karena di sekitar tempat kami camping waktu itu tidak ada mata air, jadi kami memutuskan untuk membawa pulang nesting tanpa dicuci. Rencananya, nesting dan semua barang perlengkapan praktek gunung hutan akan kami cuci setibanya kami di kampus. Namun kenyataannya, aku malah langsung pulang ke kos. Hehe.
satu set nesting
Nah, karena tidak dicuci dan terbungkus selama berminggu-minggu, maka aku yakin 100% bahwa makanan sisa yang menempel di dinding nesting pasti sudah membusuk dan sangat ‘harum’. Hemm, dan tentu saja aku sangat yakin sudah terbentuk “kerajaan” baru di dalam sana. Well, apapun konsekuensinya ya harus dihadapi. Aku harus bertanggung jawab atas kelalaianku. Hhh. Di saat-saat seperti ini aku sangat menyesalkan sifat burukku yang suka menunda-nunda pekerjaan. Kalau saja aku tidak menunda-nunda untuk segera membongkar dan mencuci barang-barang ini, tentu aku tidak perlu menemui “kerajaan” baru tersebut. Huff.
Okelah, dengan jantung yang berkali-kali lebih keras ber-dag-dig-dug, aku membuka bungkus nesting. Hmm, tiba-tiba aku punya ide. Untuk berjaga-jaga, agar tangan dan kakiku tidak menyentuh atau kecipratan apa pun yang ada di dalam nesting itu, aku harus mengenakan sarung tangan dan sepatu boots. Eh, tapi aku kan tidak punya sepatu boots. Ah, baiklah. Tiada rotan akar pun jadi, tiada sepatu boots, tas kresek pun jadi. Maka aku mengambil tas kresek yang cukup besar dan membungkuskannya pada kakiku. Sedangkan untuk sarung tangan, aku menggunakan sarung tangan yang cukup tebal dan panjang yang biasa digunakan untuk membersihkan WC. Untung saja di kosku sedang sepi karena musim liburan. Kalau tidak, pasti aku akan jadi bulan-bulanan. Teman-teman kosku pasti bilang, “ngakunya anak Mapala, tapi kok takut sama #SENSOR#”
Dan mereka pasti tertawa. Lalu aku terpojok. Meringkuk di sudut kamar sambil menyesali nasib. ~~~
Aaah. Untunglah mereka tidak tahu.
Nah, setelah peralatan perang sudah lengkap, aku mengambil dengklek atau bangku kecil yang biasanya digunakan untuk duduk sambil mencuci. Kami, para anak kos di Mintil Kingdom (begitu kami menyebut kos-kosan kami), membutuhkan dengklek untuk mencuci baju atau piring sebab tempat cuci kami bukan tempat cuci berdiri.  Aku berjongkok di atas dengklek, tentu saja kakiku kunaikkan ke atas dengklek, sekedar berjaga-jaga kalau-kalau isi nesting itu tumpah. Oke, posisiku sudah aman.
Perlahan-lahan aku membongkar nesting. Ohya, satu set nesting ini terdiri dari tiga panci berbentuk balok tanpa tutup dan dipacking secara bersusun sedemikian rupa untuk menghemat ruang. Benar saja. Di dalam ketiga panci nesting, aku menemukan “kerajaan” baru yang tumbuh dengan makmurnya. Bagaimana tidak, bahan makanan tersedia secara melimpah di sana. Para penghuni “kerajaan” tersebut gendut-gendut dan beranak pinak dengan suburnya karena mendapat asupan gizi yang sangat banyak dari makanan di dalam nesting. Sumpah “nggilani” bener! Hewan-hewan kecil yang bergerak dengan perut itu terus menggeliat-geliat secara “nggilani”.
Aaaah!! Rasanya aku ingin berteriak saat itu juga, tetapi aku harus menahan diri demi harga diriku. Jangan sampai ada yang datang kemari karena mendengar teriakanku dan memergokiku sedang berjuang melawan “kerajaan” baru itu dengan wajah membiru karena ketakutan sekaligus “nggilani”. Aku males banget kalau ada yang menudingku sambil bilang, “anak mapala kok takut sama #SENSOR#”. Hrr, please deh, ya, memangnya anak mapala nggak boleh ya takut atau merasa “nggilani” sama hewan-hewan yang “nggilani” begitu?
Sampai mana tadi? Ohya, setelah berhasil membongkar nesting, aku mengambil baskom, mengisinya dengan air secukupnya dan menambahkan beberapa genggam sabun cuci bubuk. Aku mau memusnahkan “kerajaan” itu dengan larutan sabun. Biar mereka mati seketika. Salah sendiri kenapa membentuk “kerajaan” di tempat yang salah! Dengan geram, aku menuangkan larutan sabun yang kental itu ke masing-masing panci nesting. Selanjutnya, kudiamkan dulu ketiga panci nesting itu agar larutan sabun bisa menghancurkan “kerajaan” dengan sukses tak bersisa.
Aku beralih kepada baju, jas hujan, sepatu, dan carrier. Untung lah, aku tidak menemukan sama sekali hewan-hewan yang bergerak dengan perut dan menggeliat “nggilani” di sana. Setelah beres, aku menyadari sesuatu, bahwa ternyata carrier nya berbau kurang sedap. Hemm. Karena aku orang yang cerdas (kata gue sendiri sih yaa, haha), maka aku merendam carrier itu di dalam pewangi pakaian (sebenarnya tindakan ini bisa dibilang cerdas gak ya? hemm ~~~).
Setelah itu, aku beralih lagi pada ketiga panci nesting yang sudah berubah menjadi habitat “kerajaan”. Sepertinya tidak ada yang berubah dengan larutan sabun di dalam panci nesting. Warnanya tetap putih. Tidak ada warna merah darah atau warna lainnya. Juga tidak ada mayat-mayat yang mengambang di permukaan larutan. Jangan-jangan “kerajaan” itu masih bisa bertahan di dalam larutan sabun? Aduuuh.
Ah tidak peduli lah! Yang penting pekerjaan ini cepat selesai. Aku mengambil batang lidi yang cukup kuat untuk mengaduk isi panci nesting. Lalu, sambil menutup mata, aku menumpahkan isi nesting (larutan sabun + “kerajaan”) ke tempat pembuangan air.  Setelah membuang seluruh isinya, aku membuka mata, dan... Huff. Untunglah, seluruh penghuni “kerajaan” itu sudah musnah tak bersisa. Yang tersisa hanya sisa makanan yang sudah membusuk dan menempel keras di dinding nesting. Ah, kalau makanan busuk begini sih gak masalah. Hehe. Dengan bantuan pisau dan sabun cuci piring, beberapa menit kemudian, aku berhasil membuat nesting itu kinclong kembali. Akhirnyaaa.. Badai telah berlalu.
Kejadian tersebut adalah pelajaran berharga. Sejak saat itu, setiap pulang dari kegiatan outdoor, aku akan segera membongkar dan mencuci seluruh perlengkapan yang sudah digunakan agar tidak lagi mendapati “kerajaan” seperti yang kuceritakan barusan. Aku juga berjanji harus membuang jauh-jauh sifat burukku yang suka menunda-nunda pekerjaan. Sekarang sudah mendingan sih, tapi masih ada sedikit. Iya, sedikit. Hmm... Oh, baiklah, aku masih suka bekerja mepet deadline. Hemmm. Sepertinya aku butuh terapi khusus untuk menghilangkan sifat burukku yang satu ini.. ~~~


NB:
1. “nggilani” adalah bahasa Jawa yang berarti jijik.
2. Hewan-hewan kecil yang bergerak dengan perut dan menggeliat “nggilani” itu adalah belat#ng. Tahu, kan maksudku? Itu lho, hewan yang suka ada di tempat sampah basah.
3. Bagian yang kena #SENSOR# itu karena aku sedang berusaha untuk menyebut hewan-hewan kecil yang bergerak dengan perut dan menggeliat “nggilani”, seperti belat#ng, c#c#ng, ul#t, lint#h, dan hewan-hewan sejenis lainnya.