Jumat, 02 Maret 2012

LIBERALISME DAN PERUBAHAN IKLIM


Sedikit berbagi pengetahuan atas apa yang telah saya dapatkan dari sebuah pelatihan.

Apa yang Anda pikirkan pertama kali ketika mendengar kata ‘Liberalisme’?
Saya sendiri hanya bisa menjawabnya dengan beberapa patah kata, yaitu liberalisme sebagai kebebasan berpikir. Saya bukan mahasiswa hukum, dan basic pengetahuan saya sama sekali tidak berhubungan dengan liberalisme maupun isme-isme yang lain. Tapi Saya cukup sering mendengar orang-orang menyebut kata liberalisme. Jadi, ya, Saya hanya bisa memutar sedikit ingatan saya tentang liberalisme, dan menemukan bahwa liberalisme itu berarti kebebasan. Kebebasan berpikir, lebih tepatnya. Mengapa demikian? Karena menurut Saya, sumber dari kebebasan itu adalah pikiran kita sendiri. Apapun yang telah maupun yang akan kita lakukan, tentu bersumber dari pikiran kita. Kekangan atau kebebasan yang kita dapatkan, itu pun bersumber dari pikiran kita sendiri. Seorang filsuf pernah berkata ‘Apa yang kita yakini, itulah yang akan terjadi’.
Itu lah batas pengetahuan saya tentang liberalisme, sebelum mengikuti pelatihan berjudul “Liberal Workshop for Student on Climate Change and Freemarket”. Pelatihan yang digelar pada tanggal 22-23 Februari 2012 di Country Haritage Resort Hotel tersebut, dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari penggiat lingkungan dan aktivis kampus di tiga universitas ternama di Surabaya, yaitu Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Penyelenggara pelatihan ini sendiri adalah komunitas pencinta lingkungan bernama Akar Petit bekerja sama dengan Freedom Institute dan Friedrich Nauman Stiftung.
Tujuan dari pelatihan ini adalah memberikan pengetahuan bagi peserta tentang peran free market sebagai bagian dari liberalisme dalam meminimalisir penyebab global warming.
Seperti yang Anda ketahui, bahwa bumi kita ini sedang didera oleh fakta tentang Climate Change, yang disebabkan oleh Global Warming. Saya jadi mengingat ada salah seorang peserta pelatihan yang berkata, “Ibaratnya, sebutan perubahan iklim atau Climate Change itu hanya tepukan pelan di pipi, sedangkan sebutan pemanasan global atau Global Warming itu adalah tamparan keras.”
Singkatnya, Global Warming disebabkan oleh munculnya gas-gas di atmosfer yang memberikan efek rumah kaca, sehingga bumi mengalami kenaikan suhu. Selain itu, global warming juga disebabkan oleh deplesi ozon, sebagai akibat dari penggunaan zat-zat pengurai O3 (Ozon) seperti CFC yang sering didapati penggunaannya dalam mesin pendingin. Kenaikan suhu bumi kemudian disebut sebagai global warming, yang menjadi penyebab perubahan iklim. Di Indonesia sendiri, perubahan iklim terbukti dengan bergesernya waktu musim kemarau dan musim penghujan, bahkan musim tersebut mulai berlagak seperti sistem yang kacau.
Masyarakat berpendapat bahwa penyebab utama global warming berasal dari emisi kendaraan bermotor dan limbah industri. Ya, memang begitu kenyataannya. Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim, gas rumah kaca yang paling berperan dalam pemanasan global adalah CO2 yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, serta CO2 yang dihasilkan karena deforestasi. Namun jika ditilik lagi, bahkan sebelum bumi mengenal industrialisasi pun, global warming telah terjadi. Beberapa juta tahun yang lalu, bumi mengalami jaman es. Menurut para ilmuwan, akhir dari jaman es tersebut disebabkan meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer yang menyebabkan kenaikan suhu bumi, sehingga dapat mencairkan es yang menutupi permukaan bumi. Ada pula yang berpendapat bahwa rotasi bumi terhadap matahari tidak berada pada posisi yang simetris, sehingga  perubahan iklim dapat terjadi setiap 150 juta tahun sekali.
Menurut logika, solusi dari suatu permasalahan adalah dengan meniadakan penyebab dari permasalahan tersebut. Sehingga, jika dikatakan industrialisasi adalah penyebab utama global warming, maka industrialisasi pun harus di-STOP agar global warming juga bisa STOP. Namun, tidak bisa serta merta seperti demikian. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehidupan manusia bumi telah bergantung pada industrialisasi. Segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan industrialisasi, mulai dari kebutuhan pangan sampai angkutan menuju bulan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwasanya global warming disebabkan oleh dua hal yang tidak bisa dihentikan begitu saja, yaitu industrialisasi serta gejala alam itu sendiri. Maka dari itu, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana cara meminimalisir penyebab global warming, tetapi kebutuhan manusia tetap terpenuhi.
Banyak tindakan telah dilakukan untuk meminimalisir global warming, beberapa di antaranya efisiensi bahan bakar, inovasi teknologi, dan penggunaan energi alternatif ramah lingkungan, yang menurut pembicara dalam pelatihan ini merupakan tindakan kapitalis. Saya sendiri, karena pengetahuan saya berkembang di lingkungan ilmu pasti, yakin bahwa tiga tindakan kapitalis tersebut merupakan tindakan paling berpengaruh terhadap minimalisasi global warming. Namun, dalam pelatihan ini, saya mendapat pandangan bahwa global warming dapat diminimalisasi dengan cara-cara yang belum pernah terpikirkan oleh saya J.
Cara-cara tersebut, yang belum pernah terpikirkan oleh saya, berkembang dari pemikiran berpaham liberal. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, bahwa liberalisme ini merupakan paham kebebasan. Terdapat beberapa nilai yang berkembang dalam liberalisme ini, antara lain tentang property right, toleransi, individu, demokrasi, kompetisi, aparat, regulasi dan free market/perdagangan bebas. Kemudian, dari nilai property right/hak milik, berkembang suatu pemikiran bahwa manusia cenderung lebih suka menjaga dan merawat materi yang menjadi miliknya. Sebagai contoh, di suatu desa terdapat danau yang di dalamnya terdapat banyak ikan. Karena danau tersebut bukan milik siapa-siapa, maka setiap penduduk desa pun bebas memancing di danau tersebut. Dengan demikian, setiap orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan ikan lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak lagi sampai ikan di danau tersebut habis terpancing.
Hal yang berbeda terjadi jika seseorang memiliki hak milik terhadap danau tersebut. Dengan adanya hak milik, si pemilik sungai akan menjaga dan melestarikan danau tersebut. Karena memiliki hak milik terhadap danau, maka si pemilik pun bebas mengambil ikan dalam danau tersebut. Namun, dikarenakan hak milik itu juga, si pemilik tidak akan menghabiskan ikan dalam danau tersebut. Si pemilik justru akan merawat dan melestarikan ikan-ikan dalam danau tersebut, agar terus berkembang sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, kelangsungan hidup ikan-ikan dalam danau bisa dikatakan lebih terjamin jika danau tersebut bukan milik bersama, melainkan milik pribadi.
Kabarnya, di India, seorang wanita berhasil memelihara singa sebagai hewan ternak. Seperti yang kita ketahui, singa merupakan salah satu hewan yang hampir punah. Namun, kepunahan tersebut dapat dicegah dengan menjadikan singa sebagai hewan ternak. Bisa dimungkinkan dengan cara tersebut, kelestarian singa maupun hewan liar lainnya lebih terjamin.
Implementasi dari ide perdagangan bebas ini dapat juga bermanfaat untuk meminimalisir global warming. Misalnya dalam hal perdagangan bebas dan hak milik terhadap kawasan hutan. Seperti pada contoh danau di atas, mungkin si pemilik akan memanfaatkan sumber daya yang terdapat dalam hutan tersebut. Namun, si pemilik tidak akan melupakan bahwa hutan yang sedang ia manfaatkan itu adalah miliknya sendiri. Dengan demikian, dia akan menjaga dan melestarikan hutan tersebut, sehingga sumber daya di dalamnya dapat dimanfaatkan secara kontinu.
Peluang adanya praktek eksploitasi hutan memang akan jauh lebih besar jika hutan tersebut dimiliki secara pribadi. Bisa saja si pemilik akan membabat habis hutan miliknya, kemudian menjadikannya rumah peristirahatan, kawasan wisata dan lain sebagainya yang dapat menghasilkan uang. Disinilah peran dari regulasi dan aparat yang juga termasuk dalam nilai liberalisme. Regulasi dapat dibuat sedemikian rupa sehingga si pemilik dapat memanfaatkan sekaligus melestarikan kawasan hutan miliknya, dan aparat dapat menegakkan regulasi sebagaimana mestinya.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa memang selalu ada celah untuk berbuat curang. Jika sudah demikian, apa lagi yang bisa dikatakan selain “itu semua tergantung pada kesadaran individu masing-masing”.
Sebenarnya liberalisme itu sendiri muncul dengan asumsi bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik. Namun, Tuhan sendiri telah menciptakan manusia satu paket dengan apa yang sering kita sebut ‘nafsu’. Jadi, bagaimana menurut Anda???

Kamis, 09 Februari 2012

2 September 2009


2 September 2009

Bagaimana jika ternyata hati ini masih menyimpanmu?
Aku mungkin sudah tak bersisa.
Aku mungkin sudah tak termaafkan.
Aku mungkin sudah hilang bersama waktu.

Bagaimana jika aku meminta satu kesempatan,
yang pernah kubuang,
yang pernah kusia-siakan,
namun kini kusesali?

Aku terus berjalan melangkahimu,
melambaikan tangan padamu,
dan kamu membalasnya dengan senyum.
Ketulusan terpancar jelas dalam katamu.

Aku berkelana melewati waktu, melintasi jalan kehidupan,
sesekali terjatuh,
dan terjatuh,
lalu terjatuh lagi.

Kemudian,
di ujung jalan ini,
aku menoleh pada 2 September 2009.
Kubuka jurnal yang kutulis waktu itu,
kubaca dan aku paham:
Siapa lagi yang bisa lebih baik darimu?

Seandainya ini hanya jalanan ruang,
maka aku akan kembali.
Namun 2 September 2009 adalah jalanan waktu,
yang tak bisa kujelajahi lagi.

Seandainya aku tahu akan ada penyesalan yang panjang untuk ini,
aku tidak akan merusak 2 September 2009.

FIREWORKS


Hi dear,
Hari ini mungkin salah satu hari terindah bagi seorang sahabatku bernama Norma Rahmawati. Dia keren sekali, wow! Kemampuan menulisnya berhasil mengantarkan satu penghargaan sebagai pemenang pertama dalam kompetisi menulis bertajuk ekspedisi cincin api. Bukan berita yang mengejutkan sebenarnya, mengingat dia memang jago menulis, menceritakan kembali pengalamannya dalam sebuah tulisan yang menarik.
Let me tell you little more about this girl. Menurut beberapa orang pengagumnya, Norma Rahmawati atau yang akrab dipanggil Norem ini cantik dan menarik. Tapi dia tidak pernah menerima kenyataan itu, inilah cewek low profile masa kini. Hehe. Dia memang cerdas dalam hal menulis, tapi kadang dia suka lola alias loading lama kalo lagi ngobrol. Aku baru tahu, lho, ada orang jenis begini. Hehe, unik ya?
Kelebihan Norem yang lain, dia selalu melakukan apa yang sedang ia lakukan dengan tidak setengah-setengah, dan bukan merupakan tipe orang yang bisanya cuma ikut-ikutan tren masa kini. Tapi kalo dipuji begitu, dia pasti akan langsung menolaknya. Lagi-lagi, inilah cewek low profile masa kini. Hehe.
Sebelum menjadi juara di kompetisi ekspedisi cincin api, setahuku Norem sempat mengikuti kompetisi-kompetisi lainnya. Dia juga selalu aktif menulis di berbagai media, mulai dari jejaring sosial alias update status facebook, sampai tabloid terbitan organisasi-yang-sukses-membuat-kami-menjadi-saudara-meski-tak-sedarah (baca: PLH SIKLUS ITS).
FYI, PLH SIKLUS ITS ini kepanjangan dari Pencinta Lingkungan Hidup SIKLUS Institut Teknologi Sepuluh Nopember, sebuah organisasi yang berkiprah di dunia per-lingkungan-an dan per-alam-an, duh kacau nih bahasa Indonesia-nya hehehe. Organisasi kami ini sejenis mapala (mahasiswa pencinta alam) yang bidang geraknya lebih ke konservasi.
Oke, oke, back to mbak Norem si cewek low profile. Hoho.
Mungkin menulis memang sudah menjadi bakatnya. Tapi, didn’t you ever hear this formula:
KESUKSESAN = 99% Usaha + 1% Bakat
Wow! See it, bakat hanya memegang 1% dari 100% kesuksesan, sedangkan usaha memegang kendali sebesar 99%. Ya mungkin selisih nilai prosentasenya gak begitu amat, tapi intinya usaha jauh lebih berpengaruh terhadap kesuksesan kita.
Let’s see, misalnya ada seseorang yang mempunyai bakat menjadi titisan Bapak Einstein, tapi kalau setiap harinya hanya dia habiskan untuk bermalas-malasan, apa yang bisa ia dapatkan selain wasting time? Sayang sekali bukan, padahal seharusnya dia sangat berpotensi menemukan hukum-hukum fisika, yang mungkin bisa membuat manusia terbang 3 cm di atas permukaan tanah, hehe.
Misalnya lagi, ada seseorang yang sangat berbakat melukis, kemudian pada suatu saat dia mendengar akan diadakan lomba melukis. Sayangnya, dia melewatkan begitu saja kesempatan emas itu hanya karena minder, takut kalah, gak percaya diri, dan segudang alasan loser lainnya. Well, orang-orang jenis ini patut kita beri stempel ‘loser’ di jidatnya, karena mereka bahkan sudah menyerah sebelum benar-benar bertanding.
Ohya, dan satu contoh lagi. Sebuah cerita dongeng yang sudah sangat sering kita dengar: KANCIL DAN KURA-KURA. Oke, oke, bagi yang belum tahu, jadi begini ceritanya: dahulu kala, hiduplah seekor kura-kura yang mirip kura-kura karena dilahirkan dari seekor induk kura-kura yang kawin dengan kura-kura... Halah, halah! Intinya, pada suatu saat si kancil dan kura-kura berlomba lari. Karena merasa lebih hebat dan cepat daripada kura-kura, di tengah per-lomba-lari-an si kancil memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Menurut kancil, kura-kura tidak akan mungkin bisa menyusulnya. Tapi ternyata, si kancil tidur terlalu lama, dan pada saat ia terbangun, kura-kura sudah berada di garis finish. Jadi, mari kita ambil hikmahnya: tindakan meremehkan orang lain karena merasa lebih hebat daripada mereka hanya akan membawa kekalahan bagi kita.
Then, sebesar apa pun bakat yang kita miliki, tanpa usaha, everything will be equal to ZERO. Maka dari itu, teman-teman, mari kita bangkit, jangan mau kalah dengan segala macam bentuk kemalasan dan godaan, bunuh semua rasa minder dan tidak percaya diri, dan lawan semua halangan yang ada. Seperti yang mbak Katty Perry bilang di lagunya, FIREWORKS:

You just gotta ignite, the light, and let it shine
Just own the night like the 4th of July

'Cause baby you're a firework
Come on, show 'em what you're worth
Make 'em go "Oh, oh, oh"
As you shoot across the sky-y-y

Menurut mbak Katty Perry, kita ini seperti kembang api. Kurang ajar, wong ayu-ayu & ganteng-ganteng gini kok dibilang kembang api!! Hehe. Jadi, seperti kembang api, sebelum disulut ya dia akan tetap menjadi onggokan berwarna abu-abu, sama sekali tidak menarik. Tapi setelah disulut, onggokan berwarna abu-abu itu akan berubah menjadi kembang api yang sangat indah dan penuh semangat. Kalo gak disulut selamanya, ya dia akan tetap menjadi onggokan itu selamanya. Please, jangan mau jadi onggokan abu-abu lebih lama lagi, ayo kita ambil korek api dan membakar diri kita, lho kok? hehe becandaa. Well, sudah saatnya kita bangkit seperti kembang api. Lalu siapa yang harus menyulutnya? Of course, it’s our own selves.
Ohya, dan jangan menjadi seperti si kancil yang sombong, tapi jadilah seperti Norem si cewek low profile. Hehehe.