Jumat, 21 Maret 2014

You, Me, and Kilometers

you, me, and kilometers

You eat your food
You said you love meat most
I told you to drink a tomato juice to fix your health

You drive in your car
You said you're driving fast
I told you have hours, not to hurry up

You sleep on your bed
You said you got fever
I told you to take an aspirin, but you don't like taking a pill

You sit in front of your house
You said you miss a home
I told you I miss you

You reach house late
You said you got a tiring day
I told you to take a rest

Baby, you know, kilometers distance us
I couldn't see you every time I want
But you have to know, you're the one I miss the most

Friends are laughing at us
People ask me what kind of us to be,
how I could stand for us,
why it's just you
I smile
Because they won't know
Kilometers are not far enough for our heart
Because you make me stop to look for, and start to look after

Friends will stop laughing at us
People will stop wondering what kind of us to be
When kilometers give up on us and the day come

Friends will stop laughing at us
People will stop wondering what kind of us to be
When I could prepare a tomato juice for you,
When I could kiss you before you leave for work,
When I could hug you any time,
When I could set a dinner for us
When I could prepare two cups of tea for us enjoying the rain

Baby, believe me,
Kilometers are not far enough for our heart



this is dedicated to "ZA"
Pandaan, 21 Maret 2014
Ekky Riza

Rabu, 19 Maret 2014

Terimakasih


Aku terlarut dalam malam. Hancur lebur menjadi partikel. Aku menyatu dengan gelap. Aku merasakan hadirmu.

Dua puluh empat bulan yang lalu kau dan aku masih berlari-lari kecil di pinggir Pantai Papuma. Musik lautan dimainkan oleh ombak yang bersinergi dengan air laut membunyikan suara-suara alam yang selalu kau banggakan padaku. Kau membawa kameramu, berusaha merekam setiap ekspresi yang muncul dari wajahku. Kau bilang aku cantik.

Tiga puluh satu bulan yang lalu kau dan aku masih duduk di tepian sebuah kolam, yang kita juluki “kolam pengakuan”. Di sana pertama kalinya hati kita bertemu. Bulan dan bintang menemani kita dengan lukisan langit yang selalu kau kagumi. Kita tertawa mendengar suara kodok yang bernyanyi setelah hujan turun. Bahkan malam itu pun, hujan turun ingin menyaksikan kita. Angin malam datang memberi salam kepada kita. Sang bulan tampaknya telah memberi kabar kepada seluruh elemen alam tentang kita.

Delapan belas bulan yang lalu kau dan aku menapaki tanah Mahameru. Aku seorang lemah yang tiba-tiba menjadi kuat untukmu, semata-mata ingin menunjukkan bahwa aku adalah wanita yang tepat untukmu. Kau ingat, matamu selalu berbinar-binar cemerlang saat menceritakan apa yang kau lihat di Ranu Kumbolo, apa yang kau pikirkan di Oro-Oro Ombo, apa yang kau rasakan di Mahameru. Aku ingin merasuki rasamu secara utuh.

Dua puluh bulan yang lalu kau dan aku berada di tengah padatnya kota Surabaya. Kau bilang ingin menunjukkan tempat yang menakjubkan kepadaku. Aku buta arah, kau mengerti itu. Maka kau tidak pernah sekali pun melepaskan tautan jari tanganmu dari jari tanganku. Sepanjang jalan bernama “Jalan Semarang” itu, kau dan aku bergandengan tangan mencari buku-buku tua dan murah yang sudah lama kita cari.

Enam belas bulan yang lalu kau dan aku duduk berhadapan di sebuah meja kafe es krim. Aku ingin mentraktirmu sebagai ucapan terimakasih atas semua kebaikan yang kau tanamkan padaku. Saat itu kau baru saja pulang dari pendakian Gunung Rinjani. Aku memesan satu porsi es krim coklat favoritmu dan satu porsi es krim vanilla favoritku. Aku menunggu binar-binar matamu saat menceritakan perjalanan Rinjani mu.

Namun kau diam.

Matamu sayup.

Aku bertanya mengapa. Matamu menatap mataku, mengisyaratkan bahwa kita sudah selesai. Kau tidak perlu bicara, aku sudah mengerti.

Rasamu telah berbeda.

Kau bilang kau bertemu lagi dengannya. Wanita itu. Yang selalu kau ceritakan. Yang tidak pernah kau lupakan. Yang selalu kau banggakan. Yang selalu kau hadirkan bahkan saat kita bersama.

Seketika. Aku melupakan nikmatnya rasa es krim vanilla favoritku. Aku merasakan hatiku tertusuk tombak. Otakku memaksa agar air mataku tidak keluar. Namun hatiku lebih kuat. Hatiku mengambil kendali atas seluruh tubuhku. Otakku tidak berfungsi. Serta merta air mataku jatuh.

Aku menangkupkan tangan di wajahku, berharap kau akan meraihnya dan mengatakan bahwa kau akan tetap bersamaku. Tetapi kau diam. Aku menangis sendirian. Kau dan aku hening di sudut kafe es krim yang ramai pengunjung. Kau menungguiku hingga aku lelah menangis. Aku membuka tanganku, meskipun aliran air mata masih belum bisa kuhentikan. Aku melihatmu menatapku.

Kau menatapku nanar. Aku bisa merasakan kekacauan di dalam hatimu. Saat itu kita tidak saling bicara. Kau hanya menatapku, dan aku mengerti. Bahwa kita telah usai. Bahwa wanita itu telah menunggumu untuk segera kembali padanya.

Bahwa kau tidak memilihku. Bahwa wanita itu telah meninggalkanmu, dan kau tetap memilih bersamanya.

Kau berucap maaf, lalu pergi meninggalkanku menangis sendirian di sudut kafe es krim. Aku memaksa tersenyum dan berkata kepadamu sebelum kau pergi, “terimakasih.”

Enam belas bulan yang lalu. Kau ingat? Hatiku masih saja perih.

Senin, 30 Desember 2013

Evaluasi 2013

Halo para tetesan air hujan,
Waktu berjalan, hmm tidak, sepertinya waktu tidak berjalan, tetapi berlari dengan sangat cepat.
Rasanya baru beberapa saat yang lalu aku masih ribet menata 2013, berharap di tahun 2013 aku sudah mencapai beberapa target yang aku kejar dalam tahun 2013, yaitu:
1. Lulus kuliah dan wisuda di bulan Maret tanggal 16 atau 17. FYI, saya sudah gagal untuk ikut wisuda di semester sebelumnya.
2. Segera mendapat pekerjaan dengan bekal ijazah S1 Kimia.
3. Memperoleh uang sebesar Rp 5.000.000,00 dari hasil menjual 'hasil karya' dari kain perca.
4. Menggunakan uang Rp 5.000.0000,00 tersebut untuk membeli mesin jahit baru dan beberapa gulung kain untuk memulai home industri kami (saya dan Ibu).
5. Bisa menjahit dan membuat model baju, selanjutnya untuk dijual. Hehehe.
6. Lebih giat menulis dan menghidupkan blog saya: soreinilagi.blogspot.com (silakan dikunjungi... Hehe, sekalian promosi)
7. Menyelesaikan cerita "Ar-Rahman" (sekarang masih 4.030 kata, hehe), sambil mencatat ide cerita lainnya.
8. Melakukan perjalanan ke Jawa Barat untuk memulai "around the Java"
9. Meningkatkan kemampuan english, sekarang masih di toefl 480, semoga di akhir 2013 bisa meningkat menjadi 520 atau lebih. Mungkin kalau kondisi memungkinkan, juga ingin memulai belajar bahasa Jerman :)
10. Berjuang, berdoa, dan bertawakkal untuk menjadikan harapan-harapan ini menjadi nyata, bukan hanya tulisan.


HASILnya?
Banyak sekali yang mandek, dan akhirnya tidak terlaksana. Well, aku akan mengajak kalian, para tetesan air hujan, untuk mengevaluasi target-2013-ku satu per satu.
1. Lulus kuliah dan wisuda di bulan Maret tanggal 16 atau 17. Well done! Terimakasih Ayah, Ibu, Bu Ratna, Bu Nurul, Merdeka, Meita, Jannah, Zahroh, Nurma, Edry, temen-temen C 26, sodara-sodara SIKLUS, dosen dan staf jurusan Kimia FMIPA ITS, serta semua orang yang telah menginspirasi dan membantuku selama kuliah. Yang paling pasti adalah, aku tidak akan pernah lulus dari jurusan kimia FMIPA ITS tanpa ridho dari Allah SWT. Alhamdulillah. Tiada daya dan upaya selain dari-Nya.
2. Segera mendapat pekerjaan dengan bekal ijazah S1 Kimia. Good! Setelah wisuda pada bulan Maret 2013, aku baru mendapat pekerjaan pada bulan Juli 2013. Bukan di perusahaan besar semacam Sampoerna, Semen Gresik, Charoen Phokpand, dsb., tetapi setidaknya aku bisa banyak belajar dari pengalaman kerjaku yang pertama, dan bertemu dengan orang-orang baru di tempat kerja baru. Trust me, mereka (orang-orang baru itu) sangat menginspirasi!
3. Memperoleh uang sebesar Rp 5.000.000,00 dari hasil menjual 'hasil karya' dari kain perca. FAILED! Targetku yang satu ini benar-benar gagal total! Setelah lulus, aku sibuk mencari kerja, pergi ke bursa karir, mempersiapkan dokumen, tes psikologi, interview, sampai akhirnya aku melupakan tentang lima juta yang harus kuhasilkan dari kain perca. Dan sekarang, gunungan kain percaku itu masuk ke dalam lemari kecil di gudang rumah. Mungkin suatu saat, saat aku ingin (kapan?), aku akan mengetuk pintu lemari kecil itu dan berkata kepada gundukan kain perca itu, "Hai, apa kabar? Masih mau main denganku?". Hmmm.. Mereka masih mau nggak ya?
4. Menggunakan uang Rp 5.000.0000,00 tersebut untuk membeli mesin jahit baru dan beberapa gulung kain untuk memulai home industri kami (saya dan Ibu). DOUBLE FAILED! Nah! Kalau target nomor 3 saja sudah FAILED, apalagi yang ini!
5. Bisa menjahit dan membuat model baju, selanjutnya untuk dijual. Hehehe. TRIPLE FAILED! Sebenarnya nomor 3 - 5 adalah target berseri, jadi kalau target nomor 3 gagal, ya pasti nomor 4 dan 5 juga gagal.
6. Lebih giat menulis dan menghidupkan blog saya: soreinilagi.blogspot.com. Kalau yang ini... Hehe, silakan para tetesan air hujan saja yang menilainya sendiri. Hehe. Muah muah.
7. Menyelesaikan cerita "Ar-Rahman" (sekarang masih 4.030 kata, hehe), sambil mencatat ide cerita lainnya. FAILED! Suatu malam, waktu aku begadang, aku sedang mencoba menyelesaikan cerita "Ar-Rahman" sambil menonton TV di channel INDOS*AR. You know what? Ada sebuah FTV yang sedang diputar, dan ceritanya hampir hampir hampir sama dengan cerita yang  sedang kutulis. Akhirnya, aku malas melanjutkannya. Mungkin aku harus memikirkan ide cerita lain yang lebih kreatif. Hmmmmm.
8. Melakukan perjalanan ke Jawa Barat untuk memulai "around the Java". DONE! Yeey! Aku sudah jalan-jalan ke Bandung dan Banjar (perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah). Aku senang sekali bisa bermalam di rumah Mbak Ticha dan menggendong anaknya, Rezvan, di Lembang. Mbak Ticha banyak bercerita pengalaman hidupnya, yang sangat menginspirasiku. Makasih Mbak Ticha, makasih Rezvan. Dan makasih Dek Ana yang sudah menampungku waktu di Banjar. Makasih Eyang di Banjar yang menunjukkan semangat ibadah dan bekerja meskipun sudah sepuh. Ah, makasih juga Uwak yang sudah membuatkanku oncom dan sambal terasi yang paling enak yang pernah aku rasakan! Benar-benar sambal terasi paling enak yang pernah aku rasakan, dan tidak pernah aku temukan di warung-warung makan mahal sekali pun!
9. Meningkatkan kemampuan english, sekarang masih di toefl 480, semoga di akhir 2013 bisa meningkat menjadi 520 atau lebih. Mungkin kalau kondisi memungkinkan, juga ingin memulai belajar bahasa Jerman :) . Yang ini aku belum sempat melakukan tes TOEFL lagi. Hehe. Tapi aku sudah berencana akan tes TOEFL di bulan Januari 2014. Aku juga sempat mengikuti kursus bahasa Inggris di IALF Surabaya, meskipun cuma tiga bulan. Cuma tiga bulan, karena waktu itu selain nggak ada uang buat melanjutkan juga baru akan mulai bekerja. Setelah punya uang dan waktu, eh kelas yang cocok dengan kemampuanku malah lagi off. Untuk bahasa Jermannya, sejujurnya aku mencantumkan target itu karena dulu aku masih berpacaran dengan Edry yang berencana akan bekerja di Jerman. Namun, karena sekarang sudah putus, ya sudah, belajar bahasa Inggris aja deh. Hehe.
10. Berjuang, berdoa, dan bertawakkal untuk menjadikan harapan-harapan ini menjadi nyata, bukan hanya tulisan. Khusus yang ini, biar Allah SWT. saja yang menilainya.

Itulah target-2013-ku yang sebagian gagal, sebagian lagi berhasil. Tapi setelah aku baca sekarang, ternyata target-2013-ku hanya segitu saja. Dan walaupun hanya segitu saja, ternyata aku pun belum bisa mencapai semua target-2013-ku. PAYAH! Benar-benar PAYAH!
Jika kalian, para tetesan air hujan, menudingku dengan kejam, bahwa aku tidak melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan semua target-2013-ku, aku akan menerimanya dengan ikhlas, dengan lapang dada. Karena memang begitulah kenyataannya. Aku merasa selama ini diriku hanya terkukung pada kehidupan yang begitu-begitu saja. Hanya sebatas kepuasan pribadi saja. Hanya sebatas pembuktian diri saja. Ternyata, pada tahun 2013, aku hanya menjadi orang kerdil yang mengharapkan peng-aku-an. Aku belum memiliki identitas.

Setelah ini aku akan membuat posting target 2014.
Sampai jumpa para tetesan air hujan. Tetaplah turun membasahi bumi, jangan pernah bosan bertemu dengan ku :)

Rabu, 25 Desember 2013

Percakapan Imajiner



Percakapan imajiner ini saya buat lama sebelum bulan oktober 2013.

Percakapan imajiner

Aku             :    Apa yang menurutmu aku lebih istimewa dari mbak-mbak cantikmu?
Kamu          :    Kamu mau menerimaku
Aku             :    Tapi itu bukan keistimewaan
Kamu          : Maksudnya?
Aku             : Kalau ternyata ada mbak cantik yang mau menerimamu, berarti aku sudah tidak istimewa
Kamu          : Benarkah?
Aku             : Ya, bisa saja kalau ada mbak cantik yang bisa menerimamu, kamu akan lebih memilih dia daripada aku
Kamu          : Oh ya?
Aku             : (mengangguk) Kalau begitu, sebenarnya aku tidak punya keistimewaan buat kamu. Jadi kalau aku pergi, itu justru lebih baik buat kamu karena kamu bisa mencari seseorang yang punya keistimewaan, yang tidak bisa digantikan oleh orang lain, bahkan oleh mbak-mbak cantikmu.
Kamu          : Aku nggak ngerti. Apa itu berarti kamu mau pergi? Kamu ingin kita berpisah?
Aku             : (menggeleng) Sebenarnya menurutku kamu yang menginginkan kita berpisah. Lagipula aku tidak merasa kamu menyayangiku.
Kamu          : Kok bisa?
Aku             : Kamu tidak pernah ingin bertemu denganku. Aku harus marah-marah dulu, baru kamu bilang ingin, pasti dengan terpaksa biar aku nggak marah-marah lagi. Kamu tidak menjaga komunikasi kita, bahkan saat kamu sedang tidak sibuk. Dan aku juga harus marah-marah dulu, baru kamu kadang-kadang menelepon.
Kamu          : Lalu?
Aku             : Aku juga punya banyak kekurangan di mata kamu. Ingat kan? Kamu sendiri yang bilang.
Kamu          : Itu kan cuma bercanda.
Aku             : Ya, tapi di sisi lain aku merasa kamu sedang membandingkan aku dengan mbak-mbak cantikmu.
Kamu          : Kamu sensitif sekali. Dulu aku kira kamu suka bercanda.
Aku             : Semuanya menjadi berbeda setelah ada perasaan sayang.
Kamu          : Kalau sayang, kenapa kamu mau pergi?
Aku             : Aku kan sudah bilang, bukan aku yang menginginkannya, tapi kamu.
Kamu          : Aku tidak pernah bilang begitu, kan?
Aku             : Mulutmu memang tidak pernah bilang, tapi sikapmu yang mencerminkannya.
Kamu          : Sikapku yang mana?
Aku             : Aku juga sudah bilang kan. Bahkan kamu pun tidak mendengarku dengan cermat. Baiklah, akan aku ulangi dengan alasan yang lebih banyak. Pertama, kamu tidak ingin bertemu denganku bahkan setelah kita tidak bertemu selama berbulan-bulan. Aku harus marah-marah dulu, baru kamu mengajakku ‘bertemu dan berbicara’. Kedua, kamu tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menjaga komunikasi denganku. Selalu ada alasan untuk tidak berkomunikasi. Ketiga, kamu bahkan lupa dengan hari ulang tahunku, kamu cuma mengingatnya dengan bantuan reminder di HP mu. Berhubung HP mu hilang, maka hari ulang tahunku juga hilang dari ingatanmu. Keempat, kamu tidak ingin datang ke rumahku. Aku yang datang ke rumahmu. Kurasa alasannya bukan sekedar kamu tidak ada kendaraan pribadi atau jauhnya jarak rumah kita. Alasan sebenarnya adalah karena kamu tidak ingin meluangkan waktu untuk datang ke rumahku. Kamu tidak mau banyak berkorban buatku, karena aku tidak istimewa buat kamu. Kelima, kamu pernah mengatakan dengan enteng, “kalau tidak mau menunggu, kamu pergi saja.” Keenam, kamu bahkan tidak ingin menunjukkan bahwa kamu sudah punya pacar, entah karena kamu malu atau bagaimana, tapi kamu lebih suka dianggap tidak punya pacar agar leluasa menggoda mbak-mbak cantikmu. Mungkin karena aku tidak secantik mbak-mbak cantikmu itu. Ketujuh, aku rasa kamu lebih menikmati saat-saat bersama salah satu mbak cantikmu. Saat kamu membicarakan dia, kamu lebih bersemangat. Sudah tujuh alasan, kamu ingin aku menyebutkan lebih banyak alasan lagi?
Kamu          : (hanya diaaaaaaam, tanpa ekspresi)
Aku             : Jadi memang begitu? Sudah aku duga, aku cuma menjadi sekedar pelengkap buat kamu.
Kamu          : Jadi sebenarnya apa yang kamu inginkan?
Aku             : Aku ingin memiliki arti, bukan sekedar pelengkap. Aku ingin menjadi tepung terigu untuk membuat donat, sebab tanpa tepung terigu, donat tidak akan bisa dibuat. Aku tidak ingin hanya menjadi topping di atas donat, karena sebuah topping bisa digantikan oleh topping lainnya.
Kamu          : Kamu selalu bicara tentang apa yang kamu rasakan. Kamu tidak ingin tahu bagaimana perasaanku?
Aku             : Bagaimana aku tahu kalau kamu tidak pernah mengatakannya secara gamblang.
Kamu          : Aku menginginkan hubungan yang sehat, yang ceria, yang tidak melulu terisi dengan omelan-omelan dan acara ngambek mu.
Aku             : Apa yang menurutmu membuatku sering ngomel-ngomel dan ngambek?
Kamu          : (mengangkat bahu)
Aku             : Haha. Kamu pura-pura tidak tahu. Tentu saja semua omelan dan acara ngambek ku itu karena kamu, karena sikapmu. Kalau kamu bersikap manis, aku juga bisa bersikap manis. Coba kamu ingat, seberapa sering kamu bersikap manis? Hanya beberapa kali. Dan coba kamu ingat, seberapa sering kamu bersikap menjengkelkan? Berkali-kali.


Akhirnya kami putus pada bulan Oktober 2013.
Aku mengatakan seluruh alasan yang ada pada percakapan imajiner tersebut kepadanya, yang dia respon dengan kalimat, “kalau begitu, mari kita menjalani jalan yang dipilih masing-masing. Jika sampai saatnya aku akan melamarmu nanti, ternyata pintu mu sudah tertutup, maka kita benar-benar selesai.”
Melalui tulisan ini, seandainya dia membacanya, aku ingin meminta maaf kepadanya. Bahwa aku tidak bisa menunggunya lagi. Aku lelah dengan kepura-puraan bahwa aku tetap menyayanginya. Aku ingin terus berjalan dalam kehidupanku. Aku ingin mencari kebahagiaanku dengan bertemu dengan ‘orang baru’ yang dapat menghargai arti sebuah hubungan dan kasih sayang.
Maafkan aku, selama ini membohongi diriku sendiri. Aku berusaha berbahagia dengannya, tetapi tidak bisa. Aku sudah lelah berpura-pura bahagia, berpura-pura tetap bisa menerimanya meskipun dia tidak pernah menunjukkan itikad baiknya dalam hubungan kami. Maafkan aku, aku tidak bisa menunggunya. Maafkan aku, aku telah mengkhianati kata-kataku kepadanya bahwa aku akan menunggunya sampai dia siap menuju hubungan yang lebih matang. Maafkan aku, aku harus tetap berjalan maju dalam kehidupanku dan menghabiskan waktu bersama ‘orang baru’ yang lebih mampu menghargai kasih sayangku.

Semoga dengan tulisan ini, seandainya dia membacanya, dia sanggup mengerti bahwa kasih sayang yang diberikan secara searah tidak akan menghasilkan cinta yang kuat. Dan, bahwa cinta selalu menuntut perjuangan. Cinta akan tetap bernilai nol tanpa perjuangan. Meskipun nol adalah awal dari segalanya, namun segalanya akan tetap bernilai nol tanpa perjuangan.

Untuk dia yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku:

I’m sorry goodbye. Ternyata aku dan kamu tidak bisa menjadi kita. Semoga kamu segera menemukan ‘orang baru’ yang lebih mampu mengasihimu.



Regards,


Ekky

November 2013

TERSANJUNG



Angin berhembus pelan. Membelai lembut wajah setiap orang yang dilewatinya. Menelisik dedaunan di pohon-pohon yang ditanam di sepanjang tepian jalan menimbulkan bunyi gemerisik. Daun-daun kuning berguguran menutupi batu paving jalanan memberi kesan sedang berlangsung musim gugur, padahal tempat itu berada di negara tropis dua musim.
Seorang Bapak tua, usianya mungkin sudah memasuki kepala enam, tampak giat mengumpulkan daun-daun yang berguguran itu di satu tempat. Tangannya memegang sapu lidi bergagang panjang. Srek. Srek. Srek. Begitu bunyinya. Memecahkan senyap pagi itu.
Seorang gadis di sudut jalan diam-diam mengamatinya. Melihat betapa Bapak tua itu adalah seorang pekerja keras. Gadis itu membayangkan si Bapak tua bangun subuh-subuh, saat matahari masih belum bangun. Lalu Bapak tua mandi, melawan dinginnya suhu air subuh, mengambil sapu lidi bergagang panjangnya, lalu berangkat menuju jalanan ini dengan sepeda pancalnya (yang juga tua). Sepada itu sekarang sedang diparkir di tepi jalan. Sesampainya di jalanan ini, si Bapak tua segera menyapu jalanan dengan sapu lidi bergagang panjangnya.
Si gadis tersenyum saja mengamati si Bapak tua yang sekarang mulai berkeringat. Tampaknya sudah lelah. Si Bapak tua lalu menghentikan sejenak aktivitasnya, beranjak ke sepeda pancalnya, dan mengambil sebotol air. Dengan nikmat, si Bapak tua meneguk air dari dalam botol minumnya. Saat itu lah, si Bapak tua melihat seorang gadis yang rupanya sedang mengamatinya. Si Bapak tua tersenyum melihat gadis itu. Dengan agak canggung, si gadis menghampiri Bapak tua.
“Minum, neng?” si Bapak tua berbasa-basi. Si gadis hanya menggeleng dan tersenyum simpul.
“Pak, terimakasih ya, sudah menyapu jalanan ini setiap hari,” kata si gadis.
Mendengar itu, si Bapak tua merasa... Entahlah. Si Bapak tua tidak cukup pintar untuk mendefinisikan perasaannya saat itu. Saat seseorang mengucapkan terimakasih karena pekerjaannya.
“Tidak perlu terimakasih, Neng, Bapak kan digaji,” balas si Bapak tua.
“Tapi tidak semua orang, meskipun digaji, bersedia menyapu jalanan ini, Pak,” kata si Gadis.
Demi mendengar itu, si Bapak tua merasa... Ah, entahlah. Si Bapak tua masih saja belum bisa mendifinisikan perasaannya. Setelah bertahun-tahun melakoni pekerjaannya sebagai tukang sapu di tempat ini, baru sekarang seseorang mengucapkan terimakasih kepadanya.
“Bapak punya anak atau cucu?” tanya si gadis. Si Bapak tua mengangguk, lalu meluncurlah cerita tentang anak-anak dan cucunya yang sedang merantau ke kota yang amat jauh.
“Anak Bapak dua orang, neng, sudah sukses semuanya. Mereka merantau ke kota yang sangaaaaaaaaat jauh. Pulang ke rumah beberapa tahun sekali. Bapak juga punya cucu, emm, berapa ya? Aduh, Bapak lupa, neng, saking jarangnya mereka pulang. Hehe.”
Si gadis tidak ingin bertanya-tanya lagi tentang anak dan cucu si Bapak tua, karena dia tahu Si Bapak tua pasti akan sangat sedih karena merindukan anak dan cucunya jika menceritakan mereka. Maka si gadis, dengan senyumnya, menghantarkan selembar kertas gambar kepada si Bapak tua. Kertas gambar itu tidak kosong, melainkan ada lukisan si Bapak tua sedang menyapu jalanan.
“Ini buat Bapak. Tunjukkan kepada anak dan cucu Bapak, bahwa Bapak adalah seorang pahlawan kebersihan di jalanan ini,” kata Si gadis. Setelah itu, dia berjalan pergi. Si Bapak melihat gadis itu berjalan semakin jauh. Ya Allah, baru kali ini ada seseorang yang mengucapkan terimakasih dan menyebutnya pahlawan kebersihan. Si Bapak merasa sangat... Ah, iya! Si Bapak tua ingat! Perasaan ini disebut tersanjung! Seperti judul sinetron favoritnya.